JAKARTA, nujakbar.or.id – Jumat (28/11) Pengurus Ranting NU Kapuk Jakarta barat mengadakan ngaji keliling dua mingguan di mushola al-Ikhlas RW.003 Kelurahan Kapuk, Jakarta Barat. Pengajian dihadiri segenap pengurus ranting, anak ranting, masyarakat dan tokoh masyarakat, hadir pula pengurus PCNU Jakarta barat dan KH Siroj Ronggolawe dari pengurus Lembaga Dakwah PBNU.
Pengajian diasuh oleh Rais Syuriah MWC Kecamatan Cengkareng KH Ali Muntaqo dengan membahas Kitab al-Mawa’izh al-‘Ushfuriyyah.
Nama “al-‘Ushfuri” (yang berarti “burung pipit” atau merujuk pada “dari Ushfur”) adalah nama keluarga (nisbah) atau julukan yang melekat pada Syekh Muhammad bin Abu Bakar. Kitab ini menjadi masyhur dan dikenal luas dengan sebutan singkat “Kitab al-Ushfuri” atau “Usfuriyah” karena popularitas nama pengarangnya tersebut, terutama di lingkungan pesantren di Indonesia.
Dalam penjelasannya, KH Ali Muntaqo menceritakan tentang kisah sahabat Umar bin Khatab yang sedang berjalan-jalan bertemu dengan anak kecil yang sedang memainkan burug emprit.
Kisah Umar bin Khattab: Diriwayatkan bahwa Sayyidina Umar berjalan-jalan di sebuah desa dan melihat seorang anak kecil yang mempermainkan seekor burung pipit. Merasa kasihan, Umar membeli burung tersebut dan melepaskannya ke alam bebas. Dalam sebuah mimpi, seorang ulama bertanya kepada Umar mengapa ia mendapatkan ampunan dari Allah. Umar menjawab bahwa ampunan itu diberikan karena ia pernah menyayangi seekor burung pipit.
Mengutip dari laman http://digilib.uinsa.ac.id/ bahwa Keunikan Kitab Al-Mawa’idz Al-Ushfuriyyah adalah penggabungan hadis dengan hikayat dan nasihat yang membuatnya mudah dipahami dan menarik. Kitab ini berisi 40 hadis pilihan yang dilengkapi dengan kisah-kisah inspiratif, terutama dari dunia tasawuf, untuk menguatkan pemahaman para pembaca hikayat:
Keunikan utama kitab ini adalah dominasi hikayat atau kisah di dalamnya yang berfungsi sebagai penjelas hadis. Hal ini membuat isinya lebih mudah dicerna oleh berbagai kalangan, tidak seperti kitab hadis lain yang seringkali lebih fokus pada penjelasan sanad dan matan yang detail.
Metode ijmali: Penjelasan (syarah) yang diberikan bersifat ijmali, yaitu ringkas dan hanya memuat poin-poin yang esensial. Penjelasan ini kemudian dikembangkan melalui hadis lain atau hikayat yang disesuaikan dengan tema hadis pokoknya.
Isi yang inspiratif: Kitab ini menyajikan 40 hadis pilihan yang sarat hikmah kehidupan dan memuat nasihat-nasihat yang dapat menginspirasi pembaca untuk berbuat baik dan membangun akhlak mulia.
Sumber yang beragam: Kisah-kisah yang disajikan tidak hanya bersumber dari hadis, tetapi juga dari khabar dan atsar para sahabat, sehingga memperkaya khazanah ilmu yang terkandung di dalamnya.
Bahasa yang mudah dipahami: Meskipun merupakan kitab klasik berbahasa Arab gundul, terjemahan yang baik menjadikan pesan-pesannya dapat dipahami seolah-olah ditulis dalam bahasa Indonesia.

















