Media NU Jakarta Barat
Indeks
banner 728x250

Mengenal Gerakan Perjuangan Pendidikan Islam dan Warisan Keilmuan Guru Marzuki

Sudarmoyo H Soewarto
Makam KH Ahmad Marzuki bin Mirsod, ulama dan pelopor pendidikan Islam Betawi yang membangun perguruan Islam di Cipinang Muara, Batavia, pada awal abad ke-20. (Foto: Istimewa)Sumber: https://jakarta.nu.or.id/sejarah/mengenal-gerakan-perjuangan-pendidikan-islam-dan-warisan-keilmuan-guru-marzuki-1AqUY
Bagikan ke teman :

Dalam sejarah perkembangan pendidikan Islam di Betawi, nama Ahmad Marzuki bin Mirsod atau yang dikenal sebagai Guru Marzuki menempati posisi yang sangat penting. Ia bukan sekadar seorang pengajar agama, tetapi juga tokoh yang membangun tradisi pendidikan Islam berbasis masyarakat di Batavia pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20.

Pada masa itu, akses pendidikan bagi masyarakat pribumi masih sangat terbatas. Sekolah yang didirikan pemerintah kolonial Belanda hanya dapat diakses oleh kelompok tertentu. Di tengah kondisi tersebut, para ulama Betawi membuka ruang pendidikan alternatif melalui pengajian kitab, majelis taklim, dan perguruan Islam tradisional.

banner 400x130

Melalui pengajian yang ia bangun di kampung Cipinang Muara, Guru Marzuki melahirkan banyak murid yang kemudian menjadi ulama dan tokoh masyarakat di berbagai wilayah Betawi. Karena perannya yang besar dalam melahirkan generasi ulama, masyarakat kemudian mengenalnya sebagai “gurunya para ulama Betawi.”

 

Latar Belakang dan Lingkungan Ulama Betawi  

Ahmad Marzuki bin Mirsod lahir di Batavia pada 16 Ramadhan 1293 H/1876 M di Meester Cornelis (sekarang wilayah Jatinegara, Jakarta Timur), dalam lingkungan masyarakat yang memiliki tradisi keagamaan yang kuat. Pada masa itu, Batavia bukan hanya pusat pemerintahan kolonial, tetapi juga menjadi salah satu pusat aktivitas ulama Nusantara.

Di kota ini berkembang jaringan pengajian yang melibatkan ulama lokal maupun ulama keturunan Arab yang telah lama menetap di Batavia. Salah satu tokoh besar yang hidup pada masa tersebut adalah Habib Usman bin Yahya, seorang ulama keturunan Hadramaut yang dikenal sebagai Mufti Betawi pada masa pemerintahan kolonial Belanda.

Habib Usman bin Yahya dikenal sebagai ulama yang sangat produktif menulis kitab serta menjadi rujukan keagamaan masyarakat Batavia. Kehadiran tokoh-tokoh seperti beliau membentuk atmosfer intelektual yang kuat di kalangan masyarakat Muslim Betawi, termasuk lingkungan tempat Guru Marzuki tumbuh dan belajar.

 

Perjalanan Menuntut Ilmu di Makkah  

Sebagaimana tradisi ulama Nusantara pada abad ke-20, Guru Marzuki kemudian melakukan perjalanan ke Makkah untuk menuntut ilmu. Pada masa itu, kota suci tersebut merupakan pusat pendidikan Islam dunia sekaligus tempat berkumpulnya para pelajar dari berbagai wilayah, termasuk dari Nusantara.

Sebelum berangkat ke Makkah, KH Ahmad Marzuki bin Mirsod terlebih dahulu menempuh pendidikan agama di Batavia (Jakarta). Setelah ayahnya (Syekh Mirshod) wafat ketika ia masih kecil, pendidikan agama Guru Marzuki banyak dibimbing oleh para ulama lokal.

Pada usia sekitar 12 tahun, ia belajar dasar-dasar agama kepada seorang guru fikih bernama Haji Anwar. Di sini ia mempelajari Al-Qur’an serta ilmu-ilmu dasar Islam seperti fikih dan aqidah.   Memasuki usia sekitar 16 tahun, Guru Marzuki melanjutkan pengajian kitab klasik kepada seorang ulama Betawi keturunan Arab, yaitu Sayyid Usman bin Muhammad Banahsan.

Sang guru melihat kecerdasan dan kesungguhan muridnya ini. Karena itu ia mendorong Guru Marzuki untuk berangkat ke Makkah guna menunaikan haji sekaligus memperdalam ilmu agama secara lebih luas.   Sekitar tahun 1907-1908, Guru Marzuki berangkat ke Makkah untuk menunaikan ibadah haji dan menuntut ilmu. Ia kemudian menetap di kota suci tersebut selama kurang lebih tujuh tahun.

Para pelajar Nusantara di Makkah dikenal sebagai komunitas ulama Jawi, yaitu jaringan ulama dari Asia Tenggara yang belajar dan mengajar di Masjidil Haram.   Di lingkungan inilah Guru Marzuki memperdalam berbagai disiplin ilmu Islam selama bertahun-tahun. Beliau kembali ke Batavia (Jakarta) setelah mendapat permintaan dari gurunya, Sayyid Usman bin Muhammad Banahsan pada tahun 1913-1914 M (1332 H), agar pulang dan membantu mengajar di Batavia.

 

Guru dan Sanad Keilmuan Guru Marzuki

Dalam tradisi pendidikan Islam klasik, hubungan antara murid dan guru membentuk sanad keilmuan, yaitu rantai transmisi ilmu yang menghubungkan generasi ulama satu dengan generasi berikutnya.   Selama masa belajar di Makkah, Guru Marzuki berada dalam jaringan ulama besar yang juga menjadi guru bagi banyak tokoh Islam Nusantara.

Beberapa ulama yang dikenal berada dalam jaringan keilmuan tersebut antara lain Ahmad Khatib al-Minangkabawi, ulama asal Minangkabau yang menjadi imam dan guru besar di Masjidil Haram pada akhir abad ke-19. Ia dikenal sebagai salah satu ulama Nusantara paling berpengaruh di Makkah.

Selain itu terdapat pula Nawawi al-Bantani, ulama besar asal Banten yang menjadi pengajar tetap di Masjidil Haram dan dikenal luas melalui karya-karya keilmuannya dalam bidang tafsir, fikih, dan tasawuf.   Guru Marzuki juga berada dalam jaringan keilmuan Mahfudz at-Tarmasi, seorang ulama asal Tremas, Jawa Timur, yang dikenal sebagai ahli hadits terkemuka di Masjidil Haram.

Nama lain yang sering disebut dalam jaringan ulama tersebut adalah Ahmad Zaini Dahlan, seorang mufti Mazhab Syafi’i di Makkah yang menjadi rujukan penting bagi para pelajar dari dunia Islam.

Selain itu terdapat pula Sayyid Bakri Syatha, ulama besar penulis kitab I’anat al-Talibin yang menjadi rujukan penting dalam pengajaran fikih Mazhab Syafi’i.

Melalui para guru tersebut, Guru Marzuki mendalami berbagai disiplin ilmu seperti aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah, fikih Mazhab Syafi’i, tafsir Al-Qur’an, hadits, serta ilmu bahasa Arab seperti nahwu dan sharaf.

Sanad keilmuan inilah yang kemudian menjadi dasar otoritas ilmiah beliau ketika kembali mengajar di Betawi.

 

Mendirikan Perguruan Islam di Cipinang Muara

Setelah kembali dari Makkah sekitar akhir dekade 1332H/1914M, Guru Marzuki mulai mengembangkan kegiatan pengajian di wilayah Cipinang Muara, Batavia Timur.

Di tempat inilah ia membangun sebuah perguruan Islam tradisional yang menjadi pusat kegiatan pendidikan agama bagi masyarakat sekitar. Pengajian tersebut berkembang pesat pada awal abad ke-20 dan menarik banyak santri dari berbagai wilayah Batavia dan sekitarnya.

Perguruan ini tidak berbentuk sekolah formal seperti yang dikenal sekarang. Ia lebih menyerupai majelis pengajian dan pesantren kampung, tempat para santri belajar membaca kitab, memahami hukum-hukum ibadah, serta memperdalam ilmu agama.

Selain santri yang belajar secara intensif, masyarakat umum juga datang untuk mengikuti pengajian atau berkonsultasi mengenai persoalan agama.

 

Metode Pengajaran: Tradisi Salaf Betawi

Metode pengajaran yang digunakan Guru Marzuki mengikuti tradisi pendidikan salaf Betawi, yaitu sistem pengajian kitab klasik yang diwarisi dari tradisi pesantren Nusantara.

Salah satu metode yang digunakan adalah bandongan, yaitu guru membaca dan menjelaskan kitab sementara para santri menyimak serta mencatat penjelasan yang diberikan.

Metode lain adalah sorogan, yaitu santri membaca kitab secara langsung di hadapan guru, kemudian guru membetulkan bacaan serta memberikan penjelasan tambahan.

Terdapat hal unik dalam metode ini karena Guru Marzuki melakukan pengajaran mengaji sambil berkuda dan diikuti muridnya di belakang, keliling kawasan perkebunan di Cipinang Muara.

Selain itu dikenal pula tradisi ngaji kalong, yaitu pengajian malam hari yang disertai dengan menginap di tempat guru. Banyak santri Guru Marzuki berasal dari daerah yang cukup jauh dari Cipinang Muara. Karena itu mereka datang pada malam hari untuk mengikuti pengajian dan sering menginap selama beberapa hari sebelum kembali ke kampung masing-masing.

Sebagian santri bahkan dapat menginap antara satu hingga lima hari dalam satu minggu. Tradisi ini juga diikuti oleh beberapa santri dari wilayah Bekasi dan sekitarnya, termasuk tokoh seperti KH Noer Ali ketika masih menuntut ilmu.

Dalam menjelaskan pelajaran, Guru Marzuki sering menggunakan bahasa Betawi agar mudah dipahami oleh para santri dan masyarakat setempat.

 

Pemikiran dan Karya Keilmuan Guru Marzuki

Selain dikenal sebagai pendidik yang melahirkan banyak ulama Betawi, Guru Marzuki juga meninggalkan sejumlah karya tulis yang mencerminkan pemikiran keagamaannya. Karya-karya tersebut memperlihatkan kedalaman penguasaan ilmu agama sekaligus menunjukkan bagaimana tradisi keilmuan Islam klasik diajarkan dan dikembangkan di tengah masyarakat Betawi pada awal abad ke-20. Melalui tulisan-tulisannya, Guru Marzuki tidak hanya menyampaikan ilmu kepada para santri yang belajar langsung kepadanya, tetapi juga meninggalkan jejak intelektual yang dapat dipelajari oleh generasi berikutnya.

Pemikiran keagamaan Guru Marzuki berada dalam kerangka Ahlussunnah wal Jama’ah, sebuah tradisi keilmuan yang sejak lama menjadi fondasi utama pendidikan Islam di Nusantara. Dalam bidang aqidah, ia mengikuti corak teologi Asy’ariyah, yaitu pendekatan teologis yang menekankan keseimbangan antara dalil naqli (wahyu) dan dalil aqli (akal). Pendekatan ini telah menjadi arus utama dalam pendidikan Islam tradisional di berbagai pesantren dan majelis ilmu di Indonesia.

Sementara dalam bidang fikih, Guru Marzuki berpegang pada Mazhab Syafi’i, mazhab yang telah menjadi rujukan utama masyarakat Muslim Nusantara sejak berabad-abad lalu. Melalui pengajaran dan karya-karyanya, ia berusaha menjaga kesinambungan tradisi keilmuan tersebut agar tetap hidup di tengah masyarakat Betawi.

Sebagai seorang ulama yang aktif mengajar, Guru Marzuki tidak hanya menyampaikan ilmu melalui pengajian lisan di majelis-majelis taklim, tetapi juga menuliskan pemikirannya dalam bentuk kitab. Penulisan kitab merupakan bagian penting dari tradisi ulama Nusantara, karena selain berfungsi sebagai sarana dokumentasi ilmu, kitab juga menjadi media pembelajaran bagi para santri yang ingin mempelajari suatu disiplin ilmu secara lebih sistematis. Dengan menulis kitab, seorang ulama dapat memastikan bahwa ajaran dan pemikirannya dapat diwariskan secara lebih luas dan bertahan lintas generasi.

Salah satu karya penting Guru Marzuki adalah Siraj al-Mubtadi fi Ushul al-Din al-Muhammadi. Kitab ini membahas dasar-dasar aqidah Islam, terutama mengenai konsep ketuhanan, sifat-sifat Allah, serta prinsip-prinsip keimanan dalam tradisi teologi Ahlussunnah wal Jama’ah. Melalui kitab ini, Guru Marzuki berusaha memberikan pemahaman aqidah yang kokoh kepada para pelajar dan masyarakat Muslim. Penjelasan dalam kitab tersebut disusun secara sistematis agar mudah dipahami oleh para santri yang baru mempelajari ilmu aqidah.   Dalam bidang fikih, Guru Marzuki menulis kitab Miftah al-Fauz al-Abad fi Ilm al-Fiqh al-Muhammadi. Kitab ini membahas berbagai hukum ibadah menurut Mazhab Syafi’i, seperti tata cara bersuci, shalat, puasa, zakat, serta berbagai persoalan ibadah yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari umat Islam.

Selain menulis tentang aqidah dan fikih, Guru Marzuki juga memberikan perhatian besar pada pendidikan akhlak. Baginya, ilmu agama tidak hanya bertujuan menambah pengetahuan, tetapi juga harus membentuk karakter dan perilaku manusia. Hal ini tercermin dalam karyanya yang berjudul Tuhfat al-Rahman fi Bayani Akhlaqi Bani Akhir Zaman. Dalam kitab ini, Guru Marzuki membahas pentingnya menjaga akhlak dalam kehidupan masyarakat, terutama di tengah perubahan zaman yang terus berlangsung. Ia menekankan bahwa kemajuan ilmu pengetahuan dan perkembangan masyarakat harus tetap diimbangi dengan pembinaan moral dan akhlak yang baik.

Di samping itu, Guru Marzuki juga menulis kitab Tamrin al-Alzan al-A’jamiyah fi Ma’rifati Tashrif min Alfaz al-Arabiyah yang membahas ilmu sharaf, yaitu ilmu tentang perubahan bentuk kata dalam bahasa Arab. Ilmu sharaf merupakan salah satu ilmu alat yang sangat penting dalam tradisi pendidikan Islam klasik, karena menjadi dasar untuk memahami teks-teks keagamaan yang ditulis dalam bahasa Arab.

Sebagian karya Guru Marzuki juga ditulis menggunakan aksara Arab Melayu atau Jawi. Pada masa itu, penggunaan aksara Jawi sangat umum di kalangan ulama Nusantara karena menjadi jembatan antara bahasa Arab sebagai bahasa ilmu dan bahasa lokal yang digunakan masyarakat sehari-hari.

Melalui karya-karya tersebut, Guru Marzuki tidak hanya berperan sebagai pengajar, tetapi juga sebagai bagian dari tradisi intelektual ulama Nusantara yang menulis dan menyebarkan ilmu melalui kitab. Tradisi ini memperlihatkan bahwa pengajian yang ia bangun di Betawi bukan sekadar pengajaran lisan, tetapi juga merupakan bagian dari jaringan keilmuan Islam yang lebih luas, yang terhubung dengan tradisi ulama di Makkah dan berbagai pusat ilmu di dunia Islam.

Warisan pemikiran dan karya tulis Guru Marzuki kemudian menjadi bagian penting dari perkembangan pendidikan Islam di Jakarta dan sekitarnya. Melalui para muridnya, tradisi pengajaran kitab yang ia bangun terus diwariskan dari generasi ke generasi. Pengaruh tersebut masih dapat dilihat hingga hari ini dalam berbagai majelis taklim, pesantren, serta lembaga pendidikan Islam yang berkembang di lingkungan masyarakat Betawi.

Dengan demikian, Guru Marzuki tidak hanya dikenang sebagai seorang pengajar agama, tetapi juga sebagai ulama yang turut membangun tradisi intelektual Islam di Betawi melalui karya-karya keilmuannya. Pemikiran dan tulisan-tulisannya menjadi bukti bahwa tradisi pendidikan Islam di Jakarta memiliki akar yang kuat dalam jaringan keilmuan ulama di Nusantara.

 

Murid-Murid Guru Marzuki dan Jaringan Ulama Betawi

Perguruan yang didirikan Guru Marzuki melahirkan banyak murid yang kemudian menjadi ulama dan tokoh masyarakat di berbagai wilayah Jakarta dan sekitarnya.

Salah satu murid yang paling dikenal adalah KH Noer Ali (1914–1992), ulama Betawi dari Bekasi yang juga dikenal sebagai pejuang kemerdekaan serta pendiri Perguruan Islam At-Taqwa Bekasi.

Selain itu terdapat pula Muhammad Mansur (1878–1967), seorang ulama Betawi yang aktif mengembangkan pengajian kitab dan pendidikan masyarakat di wilayah Jakarta.

Nama lain yang dikenal dalam jaringan murid Guru Marzuki adalah Ahmad Syathibi (1903–1984), ulama Betawi yang dikenal sebagai pengajar pengajian kitab di wilayah Jakarta Timur.

Selain itu terdapat pula Ahmad Dimyati Badruzzaman (1916–2003) yang dikenal aktif dalam kegiatan dakwah serta pendidikan melalui berbagai majelis taklim di Jakarta.

Tokoh lain yang berada dalam jaringan keilmuan tersebut adalah Hasan Basri dari Cikarang (1920–1984), seorang ulama yang mengembangkan pengajian masyarakat dan pendidikan agama di wilayah Bekasi.

Melalui murid-murid inilah tradisi pengajian kitab yang diajarkan Guru Marzuki menyebar luas ke berbagai wilayah Betawi dan sekitarnya.

 

Warisan Pendidikan dan Lahirnya Madrasah Al-Marzukiyah

Warisan pendidikan yang dibangun Guru Marzuki kemudian diteruskan oleh keluarganya, termasuk oleh putranya, KH Abdul Ghofur Marzuki.

Ia melanjutkan tradisi pendidikan ayahnya dengan mengembangkan lembaga pendidikan yang kemudian dikenal sebagai Yayasan Pendidikan Islam Al-Marzukiyah di Pondok Gede, Kota Bekasi.

Melalui lembaga ini, tradisi pengajaran kitab, pembinaan akhlak, serta nilai-nilai pendidikan Islam yang diwariskan Guru Marzuki terus dilanjutkan oleh generasi berikutnya.

 

Jejak Ulama Betawi yang Terus Hidup

Lebih dari satu abad setelah masa perjuangannya, pengaruh Guru Marzuki masih terasa dalam tradisi pendidikan Islam di Jabodetabek.   Melalui pengajian, karya tulis, serta jaringan murid yang luas, ia telah meletakkan fondasi penting bagi perkembangan pendidikan Islam masyarakat Betawi.

Dalam konteks itulah Guru Marzuki tidak hanya dikenang sebagai seorang ulama, tetapi juga sebagai pelopor gerakan pendidikan Islam masyarakat Betawi yang melahirkan banyak generasi ulama.

Warisan tersebut terus hidup dalam jaringan pesantren, majelis taklim, dan lembaga pendidikan Islam yang berkembang di Jakarta hingga hari ini.

Penulis: JJ Sayyid Fairus Zaki Adlan

Sumber: https://jakarta.nu.or.id/sejarah/mengenal-gerakan-perjuangan-pendidikan-islam-dan-warisan-keilmuan-guru-marzuki-1AqUY

banner 728x90

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *