Media NU Jakarta Barat
Indeks
banner 728x250
Tokoh  

Biografi Singkat KH Muhammad Hasyim Asy’ari Sang Muasis Nahdlatul Ulama

Sudarmoyo H Soewarto
Pendiri NU sekaligus Rais Akbar, Hadratus Syekh KH Hasyim Asy'ari. (Foto: Istimewa via NU Online)
Bagikan ke teman :

 

Nama lengkap Kiai Hasyim Asy’ari adalah Muhammad Hasyim Asy’ari bin Abdul Wahid bin Abdul Halim yang memiliki gelar Pangeran Bona bin Abdul Rahman yang dikenal juga Joko Tingkir Sultan Hadiwijoyo bin Abdul Aziz bin Abdul Fatih bin Maulana Ishaq  dari Raden Ain Al-Yaqin yang disebut Sunan Giri. Beliau dilahirkan di Gedang –  Jombang pada hari Selasa Kliwon 24 Dzul Qa’dah 1287 H atau 14 februari 1871 M setelah ibunya yang bernama Halimah mengandung selama 14 bulan. Beliau adalah putra ketiga dari 10 bersaudara , anak dari pasangan Kiai Asy’ari dan Nyai Halimah. KH Hasyim Asy’ari merupakan campuran dua darah trah ningrat dan ulama, yaitu darah biru (ningrat, priyayi, keraton), dan darah putih (kalangan tokoh agama, Kiai, Santri). Namanya tidak dapat dipisahkan dari Riwayat Kerajaan Majapahit dan Kerajaan Demak. Dari silsilah keturunan ayahnya, nasab KH Hasyim Asy’ari bersambung kepada Maulana Ishak hingga Imam Ja’far Shadiq Bin Muhammad Al-Bagir. Sedangkan dari jalur ibu, nasabnya bersambung kepada Pimpinan Kerajaan Majapahit, Raja Brawijaya VI, yang berputera Karebet atau Jaka Tingkir. Silsilah keturunan beliau berasal dari Raja Brawijaya VI yang juga dikenal sebagai Lembu Peteng. Salah satu putera dari Lembu Peteng bernama Jaka Tingkir atau Mas Karebet. Sedang Jaka Tingkir adalah nama seorang pemuda yang berasal dari desa Tingkir yaitu nama suatu desa yang terletak di sebelah utara Kota Salatiga Jawa Tengah.

banner 400x130

Semasa hidupnya, Kiai Hasyim Asy’ari mendapatkan pendidikan agama pertamanya dari orang tuanya sendiri dan kakeknya terutama dalam bidang ilmu-ilmu Al-Quran dan literatur bidang lainnya. Setelah menginjak usia 14 tahun ia menjelajah menuntut ilmu dari pesantren ke pesantren terutama di pulau Jawa, ia pernah mondok di Langitan Tuban, Demangan Bangkalan, dan Siwalan Buduran Sidoarjo. Selanjutnya setelah menikah, ia pergi ke tanah suci Makkah selain untuk berhaji, di sana ia juga belajar ilmu hadis kepada Syekh Mahfudz at-Tarmasi, putra Kiai Abdullah pemimpin pesantren Tremas Pacitan Jawa Timur yang sudah bermukim di Makkah. Dari Syekh Mahfudz at-Tarmasi inilah Kiai Hasyim mendapat ijazah untuk mengajar kitab Sahih Al-Bukhori dan Sahih Muslim.

Pada tahun 1892 KH Hasyim Asy’ari melanjutkan pendidikan ke Makkah berguru kepada Syekh Ahmad Kahtib Minangkabauwi dari Padang yang sudah bermukim di Makkah dan menjadi salah satu imam masjidilharam. Selain itu, berikut beberapa guru Kiai Hasyim Asy’ari selama di Makkah adalah Syekh Ahmad Amin Al-Attar, Sayyid Sulthan bin Hasyim, Sayyid Ahmad Zawawy, Syekh Ibrahim ‘Arab, Sayyid Ahmad bin Hassan al-Attar, Syekh Sa’id Yamani, Sayyid Huseini al-Habsy, Sayyid Bakar Syatha, Syekh Rahmatullah, Sayyid Alawi bin Ahmad as-Saqqaf, Sayid Abbas Maliky, Sayyid Abdullah az-Zawawy, Syekh Sholeh Bafadlol, dan Syekh Sulthan Hasyim Daghastani.

Adapun guru-guru Kiai Hasyim Asy’ari yang lain adalah Kiai Kholil Bangkalan Madura, Kiai Khozin dari Siwalan Surabaya, Syekh Nawawi al-Bantani Tanara Banten,  Kiai Soleh Darat al-Samarangi dari Semarang.

Mengutip buku Mewarnai Indonesia: Jejak Perjuangan & Pemikiran Tokoh Islam dalam Mengisi Keindonesiaan oleh Yusril Ihza Mahendra, KH Hasyim Asy’ari merupakan seorang ahli al-Quran dan Hadis. Dahulu al-Quran dan Hadis dianggap sebagai ilmu pengetahuan yang baru, sehingga beliau dianggap sebagai tokoh yang memberikan pembaharuan di kalangan ulama tradisional. Bahkan beliau pada sekitar tahun 1926 berani melakukan pembaharuan sistem pendidikan di pesantren dengan cara memperkenalkan pembelajaran Bahasa Melayu, Bahasa Belanda, Matematika, Ilmu Bumi, Sejarah dan Geografi ke dalam Pendidikan di pesantren atas pengaruh keponakanya yang bernama Kiai Ilyas yang telah menamatkan pendidikanya di HIS Surabaya.

 

Menyampaikan ‘Qanun Asasi’ Nahdlatul Ulama

Menurut catatan sejarah, ketika misi yang diemban oleh Komite Hidjaz telah berhasil, suatu saat dalam rapat Komite Hidjaz ada rencana pembubaran Komite Hidjaz, namun rencana pembubaran tersebut dicegah dan tidak disetujui oleh Kiai Hasyim Asy’ari. Ia menghendaki agar komite ini diteruskan menjadi organisasi Perkumpulan Ulama yang selanjutnya disetujui dengan nama Nahdlatul Ulama.

Pada Tahun 1930 ketika sedang berlangsung Muktamar Nahdlatul Ulama yang ke-3 Kiai Hasyim Asy’ari selaku Rais Akbar menyampaikan pokok-pokok pikiran mengenai organisasi Nahdlatul Ulama. Pokok-pokok pikiran inilah yang kemudian dikenal sebagai ‘Qonun Asasi Jami’ah NU’  (Uandang-Undang Dasar Jami’ah NU).

intisari dari Qonun Asasi mencakup:

  1. Latar belakang berdirinya Jami’ah NU.
  2. Hakikat dan jatidiri Jami’ah NU.
  3. Potensi umat yang diharapkan menjadi pendukung NU.
  4. Perlunya Ulma Bersatu (Ijtima), saling mengenal (ta’aruf), Rukun Bersatu (ittihad), dan saling mengasihi satu sama lain (ta’aluf) di dalam satu wadah yang dinamakan NU.
  5. Keharusan warga NU bertaklid pada salah satu pendapat imam madzhab empat Hanafi, Maliki, Syafi’I, dan Hambali.

KH Hasyim Asy’ari menjabat Rais Akbar di NU sejak tahun 1926 sampai dengan tahun 1947. Namun setelah KH Hasyim Asy’ari wafat, gelar Rais Akbar tidak digunakan lagi. Penggantinya adalah KH Abdul Wahab Hasbullah dan lebih memilih sebutan Rais ‘Aam.

Sumber : Buku “Memahami dan Menjiwai NU”  Karya : Sudarmoyo H Soewarto

banner 728x90

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *