Nahdlatul Ulama merupakan badan hukum perkumpulan bergerak dalam bidang keagamaan, pendidikan, dan sosial yang didirikan pada tanggal 16 Rajab 1344 H bertepatan dengan tanggal 31 Januari 1926 M. Nahdlatul Ulama berpedoman kepada Al-Qur’an, As-Sunnah, Ijma, dan Qiyas. Nahdlatul Ulama berakidah Islam menurut faham Ahlusunnah wal Jama’ah An Nahdliyah. Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia, Nahdlatul Ulama berasas kepada Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.
Sejarah Awal perkembangan NU di Jakarta Barat tidak lepas dari sejarah NU di Batavia. Permintaan pendirian NU kepada Guru Marzuki bin Mirshod Cipinang Muara di tanah Betawi langsung dari Hadhratussyaikh KH Hasyim Asy`ari. Permintaan kepadanya tentu tidak sembarangan, mempertimbangkan juga pengaruh dan ketokohannya sebagai salah seorang ulama terkemuka di Betawi pada masa itu.
Posisi NU Jakarta Barat yang menjadi bagian dari Daerah Khusus Ibukota menjadikan perkembangannya sangat dinamis mengikuti pengaruh pergerakan dan perkembangan NU secara Nasional. Pengaruh ini bisa dilihat bagaimana perjalanan NU menjadi bagian dari Masyumi kemudian memutuskan untuk menjadi Partai Politik dan ketika pemerintah orde baru melakukan fusi partai menjadi tiga partai sehingga NU menjadikan PPP sebagai saluran aspirasi politik warga NU.
Selanjutnya Pada Muktamar ke-27 tahun 1984, NU memutuskan kembali ke Khittah sebagai organisasi masyarakat. Keputusan dalam Muktamar NU ini tentunya menjadikan NU keluar dari Partai Persatuan Pembangunan dan kembali menjadi NU tanpa embel-embel anggota partai politik. NU kembali menjadi suatu lembaga pendidikan, sosial dan agama.
Perjalanan NU Jakarta Barat dari periode ke periode mengalami berbagai dinamika yang bermuara pada khidmah mendampingi ummat. Sebagai Jamiyyah diniyah dan sebagai ja’iyyah ijtimaiyyah tentunya Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Jakarta Barat berupaya dengan sepenuh jiwa dan raga untuk menguatkan eksistensinya sehingga khidmah dan kehadirannya semakin dirasakan oleh semua lapisan masyarakat yang dari sisi keagamaan penduduk muslim di Jakarta Barat merupakan mayoritas dan amaliyahnya merupakan Ahlussunnah wal jam’aah.
Upaya menguatkan khidmah NU di Jakarta Barat dari masa ke masa dengan kepengurusan yang dipimpin dari Rois Syuriyah dan Ketua Tanfidziyah dari awal pendiriannya sampai dengan sekarang sebagai berikut:
SYURIYAH | TANFIDZIYAH |
| KH. Rojiun | KH. Ahmad Gaos |
| KH. Ahmad Gaos | KH. Nukman Muhasyim |
| KH. Ahmad Gaos | KH. Nukman Muhasyim |
| KH. Ahmad Gaos | KH. Ahmad Suaedi |
| Pj. KH. Juwaeni | KH. Ahmad Suaedi |
| KH. Idrus | KH. Ahmad Suaedi |
| KH. Ahya Al Ansori | KH. Hasan Yakub |
| MGS. Idrus Ali | |
| KH. Ahya Al Ansori | KH. Rohimin |
| KH. Ahya Al Ansori | KH. Rohimin |
| KH. Machfudz Asirun | KH. Zuhri Yakub |
| KH. Machfudz Asirun | KH. Zabidi |
| KH. Machfudz Asirun | KH. Ridwan Tanjung |
| KH. Abdurrahman Soheh | KH. Drs.Abdurrahman Mahmud |
| KH. Fakhrurrozi | |
| KH. Ahmad Suaedi | KH. Agus Salim |
| KH. Mahrus Iskandar | KH. Agus Salim |

