Media NU Jakarta Barat
Indeks
banner 728x250

KH. USMAN PERAK ULAMA KHARISMATIK RAWA BUAYA

Ulama Melayu, Penjaga Ilmu, dan Sentra Intelektual Islam Cengkareng Oleh : Ahmad Faujih, S.Pd, M.Pd.

Sudarmoyo H Soewarto
KH Usman Perak (Sumber: Facebook.com)
Bagikan ke teman :

Di antara sekian banyak ulama yang pernah singgah dan menetap di pinggiran kota Jakarta, ada satu nama yang oleh masyarakat Cengkareng masih diingat dan dihormati meski jejak tertulisnya nyaris tak ada yaitu KH Usman Perak. Ia bukan orang asli Betawi melainkan dari negeri seberang yaitu dari kota Perak Malaysia. Ia datang membawa ilmu, membawa cara pandang, dan pada akhirnya meninggalkan legacy melabihi megahnya bangunan ataupun dokumen.

Riwayat KH Usman Perak

Sejarah KH Usman Perak sering kali hidup hanya dalam ingatan lisan dalam cerita yang dituturkan secara turun temurun dari bapak ke anak, dari guru ke murid, dari tetangga ke tetangga. Inilah tantangan sekaligus keistimewaannya: ia adalah sejarah yang napasnya masih terasa di gang-gang kampung, di majelis pengajian, dan di makam yang sesekali diziarahi warga.

KH Usman Perak berasal dari Kota Perak, Malaysia, makanya ia dikenal dengan sebutan “Usman Perak” atau, oleh sebagian warga dipanggil “Tuan Guru” sebuah panggilan kehormatan yang lazim diberikan kepada ulama dari tanah Melayu.

banner 400x130

Latar belakang pendidikannya di Malaysia tidak banyak terdokumentasi, yang diketahui dari tuturan warga adalah bahwa ia seorang yang sangat menguasai ilmu-ilmu keislaman terutama ilmu fiqih dan ilmu hisab (falak) yang melampaui rata-rata ulama kampung di kawasan Jakarta Barat pada masa itu. Penguasaan itu hanya mungkin diperoleh dari pendidikan yang serius dan sistematis, meski di mana tepatnya ia berguru belum dapat dipastikan dari sumber yang ada.

Salah satu murid terkemuka yang pernah berguru kepada KH Usman Perak adalah KH Najihun Kosambi (lahir 1897, wafat 1984) ulama Betawi yang dikenal sebagai ahli ilmu sajak (Ar-Rud) dan kemudian mendirikan Madrasah Diniyah Al-Fajri di Duri Kosambi, Cengkareng, yang kini berkembang menjadi Yayasan Ad-Da’wah. Kenyataan bahwa seorang ulama sekaliber KH Najihun belajar kepada KH Usman Perak menjadi bukti nyata ketinggian ilmu sang Tuan Guru dari Perak itu.

Murid terkemuka lain yang dipengaruhi lingkaran KH Usman Perak adalah KH Ma’mun, yang kelak menjadi sentra intelektual baru di Rawa Buaya meneruskan estafet ilmu dari gurunya. KH Ma’mun pula yang menjadi salah satu pendiri Madrasah Ibtidaiyah Shirathul Rahman pada tahun 1981, sebuah lembaga pendidikan Islam yang lokasinya dahulu terletak di Jalan KH Usman Perak, Rawa Buaya.

Secara fisik, KH Usman Perak digambarkan bertubuh tinggi, berkulit putih bersih, dengan suara yang dalam dan penuh wibawa. Istrinya bernama Hajjah Marsiti binti Saidin. Mereka tidak memiliki anak kandung, namun mengangkat dua anak yaitu Haji Muhaimin dan Hajjah Nuraini.

Perjalanan dan Kiprahnya di Jakarta

Tidak ada catatan pasti kapan pertama kali KH Usman Perak menginjakkan kaki di bumi Nusantara. Namun berdasarkan tutur lisan masyarakat Rawa Buaya dan Basmol, ia mulai menetap di kawasan tersebut setelah pemilu 1955 artinya sekira tahun 1955 atau sesudahnya.

Menurut keterangan yang diperoleh dari warga setempat, KH Usman Perak sebetulnya sedang dalam perjalanan dari Tanjung Priok menuju Banten ketika ia singgah di Rawa Buaya, Cengkareng. Di situlah ia bertemu dengan KH Makmun, seorang tokoh agama setempat. Pertemuan itu rupanya menjadi titik balik: alih-alih melanjutkan perjalanan ke Banten, ia memilih tinggal. Kemudian ia menempati sebuah rumah di Jalan Daan Mogot KM 13, yang kini masuk wilayah RT 9, RW 3, Cengkareng Timur.

Keputusan untuk menetap di Rawa Buaya boleh jadi adalah salah satu keputusan paling penting yang pernah diambilnya meski tidak ia sadari demikian pada waktu itu. Karena dari sinilah seluruh kiprah dakwahnya dimulai.

Ketika KH Usman Perak pertama kali menggelar pengajian di Rawa Buaya dan Basmol, situasi keagamaan di kawasan pinggiran Jakarta Barat itu masih sangat sederhana. Ulama-ulama lokal ada, tapi tidak banyak yang menguasai fikih secara mendalam, apalagi ilmu hisab yang diperlukan untuk menentukan awal dan akhir bulan Ramadhan.

KH Usman Perak mendirikan majelis pengajian dan mengajarkan dua bidang utama: fiqih dasar-dasar hukum Islam yang mengatur ibadah dan muamalah sehari-hari dan hisab, yakni perhitungan astronomi Islam untuk penentuan waktu ibadah dan awal bulan hijriah.

Penguasaan ilmu hisab inilah yang benar-benar membedakan KH Usman Perak dari ulama-ulama lain di sekitarnya. Dalam tradisi Islam, penentuan awal Ramadhan adalah perkara besar yang menyangkut kesatuan umat. Di kawasan Cengkareng pada tahun 1955-an hingga 1960-an, semua ulama kampung dari wilayah Cengkareng hingga perbatasan Tangerang datang menemui KH Usman Perak untuk bertanya kapan awal Ramadhan. Ia menjadi rujukan tunggal, otoritas yang tidak diragukan.

Di luar pengajaran ilmu agama, menurut sejarawan Betawi Ridwan Saidi, KH Usman Perak adalah seorang “ulama pergerakan.” Dalam setiap pengajiannya, ia tidak sekadar mengajar hukum Islam, tetapi juga membakar semangat jamaah untuk bangkit secara ekonomi dan sosial. Postur tubuhnya yang tegap, kemampuan orasinya yang kuat, dan wibawanya yang alami menjadikan pengajiannya bukan sekadar tempat belajar agama, melainkan ruang pemberdayaan masyarakat.

Ada semacam kesenjangan yang menarik dalam cara orang-orang mengenang KH Usman Perak. Mereka yang mengikuti pengajiannya dari dalam menggambarkan ia sebagai cendekiawan sekaligus aktivis yang mengajar fiqih dan mendorong keberdayaan umat. Sedangkan mereka yang tidak mengikuti pengajiannya—hanya mengenal dari luar cenderung memitoskan sosoknya dengan cerita-cerita luar biasa. Perbedaan persepsi ini justru menunjukkan betapa kuatnya pengaruh KH Usman Perak, bahkan mereka yang tidak pernah duduk di majelisnya pun merasakan auranya.

 

 Warisan yang Ditinggalkan

KH Usman Perak wafat pada awal 1970-an. Kehadirannya di Rawa Buaya dan Basmol memang relatif singkat sekitar satu setengah dekade tapi dalam rentang waktu itu ia berhasil menanam benih-benih ilmu yang tumbuh jauh melampaui dirinya. Jasadnya dimakamkan di Rawa Buaya. Makamnya berada di belakang Masjid Jami Baitul Rahman, Jalan Rawabuaya, Cengkareng, bersanding dengan makam KH Abdul Rahman.

Warisan KH Usman Perak hadir dalam berbagai bentuk. Pertama, warisan intelektual: murid-muridnya terutama KH Najihun dan KH Ma’mun meneruskan tradisi keilmuan yang ia bangun dan melahirkan generasi ulama baru di kawasan Cengkareng dan sekitarnya. Kedua, warisan institusional: nama jalan di kawasan Rawa Buaya Jalan KH Usman Perak menjadi penanda bahwa masyarakat setempat mengakui jasa dan pengaruhnya. Ketiga, warisan budaya: Gedung Pusat Pelatihan Seni (PPSB) Budaya Betawi di Jalan Rama Raya, Rawa Buaya, memiliki satu ruang yang dinamai “Ruang KH Usman Perak,” sebuah pengakuan dari pemerintah Jakarta Barat terhadap kontribusinya. Gedung pelatihan dan pertunjukan seni budaya KH Usman Perak merupakan prasarana untuk menyelenggarakan beragam kegiatan seni dan budaya. Seperti, seni tari, seni rupa, seni musik dan seni teater bagi masyarakat, pelaku seni (seniman), guru termasuk pergelaran hasil pelatihan kesenian atau pameran.

Yang paling nyata dari semua itu adalah tradisi haul yang berlangsung setiap tahun. Pada Mei 2025, haul ke-54 KH Usman Perak digelar di Masjid Jami Baiturrahman, Jalan KH Usman Perak, Rawa Buaya dihadiri Wali Kota Jakarta Barat, para ulama, dan warga dari berbagai penjuru.

Haul ke-54 itu berarti KH Usman Perak wafat sekitar tahun 1971 konsisten dengan keterangan bahwa ia meninggal pada “awal 1970-an.” Fakta bahwa haul ini masih dirayakan lebih dari setengah abad setelah kewafatannya, dengan kehadiran pejabat kota, menunjukkan betapa kuat akar yang ia tanamkan di Rawa Buaya.

Selain menjadi pusat gravitasi intelektual di Kawasan Cengkareng dan perbatasan Tangerang, ada sesuatu yang mengharukan dalam cara sejarah merawat nama KH Usman Perak. Ia tidak meninggalkan karya tulis. Tidak ada kitab yang disandarkan padanya. Catatan resmi tentang hidupnya hampir tidak ada. Namun namanya diabadikan di papan jalan, di nama ruangan gedung pemerintah, dan di hati warga yang setiap tahun berkumpul di masjid untuk mendoakannya.

KH Usman Perak lebih memilih jalan sunyi untuk meninggalkan legacy. Ia tidak meninggalkan satu karya tulis untuk generasi selanjutnya tetapi ia meninggalkan legacy berupa tradisi yang hingga saat ini masih dikerjakan oleh masyarakatnya. Mungkin itulah cara paling jujur untuk mengukur seorang ulama: bukan dari tebal kitabnya, bukan dari luasnya pengaruh politiknya, tapi dari seberapa dalam ia dikenang oleh orang-orang yang pernah merasakan sentuhan ilmu dan ketulusannya

 

Oleh Ahmad Faujih, S.Pd, M.Pd. (Ketua Lembaga Bahtsul Masail LBM-PCNU Jakarta Barat)

banner 728x90

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *