JAKARTA – nujakbar.or.id – Halal Bi Halal PCNU Jakbar di selenggarakan di Gedung Olahraga (GOR) Mardhotillah Kedaung Kaliangke Jakarta Barat hari sabtu (18/04/2026). Acara yang dihadiri oleh seluruh pengurus PCNU Jakbar, Lembaga, Badan otonom (Banom), tamu undangn yang terdiri pejabat pemda Jakbar, pejabat dari Kajati Jakbar, pejabat dari polres Jakbar dan tokoh masyarakat dengan tema “Sporty, Jaga adab dan tetap sportif”.
Kegiatan dan tema dari halal bi halal ini merupakan ide dan gagasan dari rois syuriyah Gus Ayus yang menginginkan agar kegiatan halal bi halal tidak terlalu kaku dan monoton maka diisi dengan kegiatan turnamen badminton antar pegurus.
Dalam arahanya Gus Ayus menceritakan bahwa Rasullullah membolehkan perayaan Ied atau lebaran di isi dengan kegiataan atau perayaan yang berbeda dari biasanya misalnya dengan bernyayi, berjoged, membaca syair dan lain sebagainya yang penting tidak keluar dari syariat islam dan didalamnya terdapat kebahagiaan.
“masa halal bi halal seperti buka puasa bersama? apa bedanya? sementara itu momen lebaran adalah salah satu momen yang sangat spesial bagi masyarakat Indonesia” tanya Gus Ayus
“Tujuan dari halal bi halal adalah untuk menghalalkan sesuatu yang tadinya ada dosa, yang sebelumnya ada salah antar kita, yang sebelumnya dalam benak ada uneg-uneg yang tidak baik maka mari kita halalkan dengan meminta ampun , meminta maaf antara satu dengan lainnya” sambungnya
Sementara itu ketua PCNU Jakarta Barat H. Agus Salim menceritakan bahwa, ide halal bi halal di Indonesia adalah ide dari mbah Wahab Casbullah yang merupakan salah satu tokoh pendiri NU.
Dikisahkan pada era revolusi pada tahun 1948 tepatnya di pertengahan bulan Ramadhan, Bung Karno memanggil KH Abdul Wahab Chasbullah (1888-1971) ke Istana Negara untuk dimintai pendapat dan sarannya dengan harapan dapat mengatasi situasi politik Indonesia yang tidak sehat kala itu.
Kemudian Kiai Wahab Chasbullah memberi saran kepada Bung Karno untuk menyelenggarakan silaturahim. Sebab sebentar lagi Hari Raya Idul Fitri, di mana seluruh umat Islam disunahkan bersilaturahim. Lalu Bung Karno menjawab, “silaturahim kan biasa, saya ingin istilah yang lain”.
“Itu gampang,” kata Kiai Wahab. “Begini, para elit politik tidak mau bersatu, itu karena mereka saling menyalahkan. Saling menyalahkan itu kan dosa. Dosa itu haram. Supaya mereka tidak punya dosa (haram), maka harus dihalalkan. Mereka harus duduk dalam satu meja untuk saling memaafkan, saling menghalalkan. Sehingga silaturahim nanti kita pakai istilah halal bihalal,” jelas Kiai Wahab Chasbullah kepada Bung Karno.
Sementara itu dalam sambutanya Holi Susanto Asisten pemerintahan Kota Administrasi Jakarta Barat yang mewakili walikota sekaligus membuka turnamen menyampaikan salam dan permohonan maaf dari ibu Iin Mutmainnah Walikota Jakarta Barat dikarenakan ada tugas lain maka tidak bisa menghadiri acara halal bi halal PCNU Jakata Barat.
Gelaran halal bi halal yang diisi dengan turnamen badminton antar pengurus PCNU Jakarta Barat dibuka secara simbolik oleh Assisten pemerintahan kota mewakili walikota. Turnamen seru-seruan ini memperebutkan tropi piala dan uang pembinaan jutaan rupiah berlangsung dengan lancar, heboh, dan seru.

















