Media NU Jakarta Barat
Indeks
banner 728x250

Ketum PBNU: Hentikan Perang karena Membawa Sengsara bagi Banyak Orang

Sudarmoyo H Soewarto
Ketum PBNU Gus Yahya Staquf saat memberi sambutan dalam Penguatan Ekosistem Pesantren di Pesantren Lirboyo, Kediri, Jawa Timur, pada Selasa (15/4/2026). (Foto: dok. PBNU)Sumber: https://www.nu.or.id/
Bagikan ke teman :

Kediri, NU Online

Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) menyoroti akibat dari dampak dari perang AS-Israel melawan Iran akan mempengaruhi kehidupan banyak orang.

banner 400x130

Gus Yahya sebagai pimpinan organisasi Islam dengan jutaan anggota, menyerukan agar perang segera dihentikan.

“Kita menuntut supaya perang kekerasan dihentikan sekarang juga, supaya jangan diterus-teruskan. Apa pun sengketa yang ada harus diselesaikan melalui jalan damai. Itu kepentingan absolut kita. Karena kalau tidak kita semua ikut sengsara, seluruh dunia ikut sengsara,” tegasnya.

Pernyataan tersebut disampaikan saat memberi sambutan dalam Penguatan Ekosistem Pesantren di Pesantren Lirboyo, Kediri, Jawa Timur, pada Selasa (15/4/2026).

Gus Yahya menjelaskan, perang pada masa lalu cenderung hanya berdampak langsung pada para prajurit di medan tempur. Namun, kondisi saat ini berbeda. Konflik bersenjata memiliki dampak luas yang dirasakan masyarakat global.

“Kalau dulu perang Romawi lawan Persia itu yang mati, yang sengsara, cuma tentara yang ikut berperang di medan perang. Yunani lawan Mesir, yang sengsara cuma yang tentara ikut perang. Perang Badar yang sengsara cuma orang-orang ikut perang di Badar itu, yang di rumah enggak ikut sengsara,” imbuhnya.

Namun pada era modern, lanjutnya, dampak perang meluas hingga ke berbagai aspek kehidupan masyarakat dunia, termasuk ekonomi dan energi. Gus Yahya mencontohkan konflik Rusia dan Ukraina yang turut memengaruhi negara-negara lain, meski tidak terlibat langsung.

“Kita sudah merasakan sebetulnya selama ini ada perang Rusia lawan Ukraina. Kita enggak ngerti apa-apa. Itu sama-sama orang-orang Slovak, orang-orang Slav, bangsa Slav, yang kita enggak ngerti apa-apa, enggak ada urusan, ikut tembak-tembakan juga enggak, tapi kita ikut merasakan dampaknya, persoalan-persoalan terkait pasokan energi dan lain sebagainya,” beber Gus Yahya.

“Nah, sekarang ada yang lebih parah lagi, ini perang Amerika-Israel melawan Iran, sehingga Selat Hormuz ditutup dan lain sebagainya,” imbuhnya.

Dalam kesempatan itu, ia menanggapi anggapan bahwa seruan perdamaian merupakan bentuk kelemahan iman. Ia menegaskan bahwa memperjuangkan perdamaian justru merupakan kepentingan bersama yang harus diutamakan.

“Ketika kita mengajak perdamaian dianggap kurang beriman. Ketika kita berdialog dengan pihak lawan dianggap kita pro musuh dan lain sebagainya. Bukan soal itu, tapi bahwa perdamaian ini harus diperjuangkan sebagai kepentingan absolut dari kita semua,” katanya.

Empati terhadap korban perang

Gus Yahya juga mengajak masyarakat untuk melihat perang tidak seperti menonton bola. Ia memperhatikan, fenomena di media sosial dan berbagai kesempatan percakapan masyarakat, orang nonton perang seperti menonton bola yang pro sini dan pro sana.

“Kalau ada bom dijatuhkan Iran kita sorak-sorak. Kalau ada bom Amerika atau Israel jatuh ke Iran misuh-misuh dan sebagainya. Persis kayak nonton bola. Seolah-olah kita enggak ada hubungannya. Seolah-olah kita tidak akan ikut merasakan akibatnya,” katanya.

Gus Yahya mengajak masyarakat untuk menyadari bahwa setiap konflik bersenjata membawa penderitaan nyata bagi sesama manusia; yang menjadi korban langsung dari perang itu, seperti terkena peluru, terkena bom, adalah manusia-manusia juga.

“Orang dengan darah daging seperti kita. Orang yang di dilingkungi oleh orang-orang terkasih di antara mereka, sama seperti kita, manusia-manusia seperti kita,” katanya.

Dalam menghadapi berbagai kesulitan yang mungkin dan potensial harus dihadapi sebagai akibat dari perang, ia menyebut bahwa PBNU telah menyiapkan langkah konsolidasi hingga ke tingkat akar rumput.

Gus Yahya juga menyatakan akan terus berkeliling untuk memperkuat koordinasi dengan berbagai elemen bangsa.

“Saya juga akan terus berkeliling untuk menuhi pimpinan-pimpinan dan simpul-simpul dari seluruh elemen bangsa ini supaya kita semuanya berkonsolidasi seluruh masyarakat untuk menghadapi tantangan bersama,” imbuhnya.

Sumber: https://www.nu.or.id/

banner 728x90

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *