Media NU Jakarta Barat
Indeks
banner 728x250

Biografi Singkat KH. Abdul Wahab Hasbullah

(1888 -1971 M, Tambakberas Jombang-Jatim)

Sudarmoyo H Soewarto
KH. Abdul Wahab Hasbullah (1888 -1971 M, Tambakberas Jombang-Jawa Timur (Dok. PCNU Jakbar).
Bagikan ke teman :

Dilahirkan di lingkungan pesantren Tambakberas Jombang 13 Maret 1888 dari pasangan KH Hasbulloh Said dan Nyai Latifah. Sejak usia 7 tahun sudah belajar ilmu agama yang diasuh oleh bapaknya sendiri. Selam kurang lebih 20 tahun Kiai Abdul Wahab belajar di beberapa pesantren di antaranya adalah Pesantren Langitan (Tuban), Pesantren Mojosari (Nganjuk), Pesantren Cempaka, Pesantren Tawangsari (Sepanjang), Pesantren Kademangan Bangkalan (Madura) Pesantren Branggahan (Kediri), dan Pesantren Tebuireng (Jombang) di bawah pimpinan Kiai Hasyim Asy’ari. Selama 4 tahun ia dipercaya menjadi lurah pondok, sebuah jabatan tertinggi bagi santri di dalam pesantren.

Pada usia 27 Tahun Kiai Abdul Wahab Hasbullah melanjutkan rihlah keilmuanya ke Makkah berguru kepada Syekh Mahfudz al Termasi, Kiai Muhtaram Banyumas, Syekh Ahmad Khatib Minangkabauwi, Syekh Said al-Yamani, dan Syekh Ahmad Abu Bakri Saha. Ilmu yang dikuasai oleh KH Wahab Hasbullah adalah tafsir, hadis, fiqih, akidah, tasawuf, nahwu, sharaf, ma’ani, mantik, arudl dan ilmu munadzarah (ilmu tatacara diskusi dan retorika). Selain belajar ilmu-ilmu agama  KH Wahab Hasbullah juga bisa dikatakan seorang santri dan sekaligus seorang aktivis, beliau sejak muda usia 27 tahun sangat gemar dengan dunia organisasi, makanya tidak heran jika semasa remaja beliau aktif dan terlibat dalam pendirian beberap organisasi.

banner 400x130

Mendirikan SI (Sarekat Islam), Pada usia 27 tahun ketika sedang belajar di Makkah, bersama dengan Abas dari Jember, Asnawi dari Kudus, dan Dahlan dari Kertosono  pada tahun 1913 memprakarsai berdirinya Sarekat Islam (SI) cabang Makkah. Ketika di Makkah, Abdul Wahab Hasbullah berguru kepada Kiai Mahfudz (Termas), Kiai Mukhtaram (Banyumas), Syekh Ahmad Khatib (Minangkabau), Syekh Said al-Yamani dan Syekh Abu Bakri Saha.

 

Mendirikan Taswirul Afkar (1914), Akhirnya bersama dengan teman ngajinya waktu di Makkah yaitu Kiai Mas Mansur dan KH Dahlan Achyad, Kiai Abdul Wahab Hasbullah mendirikan kelompok diskusi yang diberi nama Taswirul Afkar di Surabaya pada tahun 1914. Pada awalnya kegiatan ini memiliki anggota yang terbatas, namun karena prinsip dari kelompok ini adalah tentang kebebasan berpikir dan berpendapat dalam diskusinya sehingga menyedot dan menarik perhatian masyarakat. Pada akhirnya kelompok ini sangat populer dan banyak tokoh yang bergabung di dalamnya. Taswirul Afkar ternyata tidak hanya menghimpun kaum ulama pesantren saja, dalam perjalananya kelompok Taswirul Afkar juga menjadi ajang komunikasi dan forum saling tukar informasi antara tokoh nasionalis, kaum generasi muda, dan generasi tua. Dari Kota Surabaya kelompok Taswirul Afkar ini menyebar hingga di berbagai kota di Jawa Timur. Kelompok ini tidak hanya mendiskusikan masalah-masalah kemasyarakatan saja namun juga mendiskusikan unsur-unsur politik untuk menentang kaum penjajah melalui tokoh-tokoh pergerakan. Bahkan sistem rekrutmenya mementingkan aspek progresifitas berpikir dan bertindak, akhirnya kelompok ini menjelma menjadi basis pengkaderan bagi kaum muda yang gandrung dengan pemikiran keilmuan dan dunia politik. Dalam perjuangannya pada awalnya adalah kelompok diskusi tentang isu-isu agama dan forum silaturrahim ulama ahlussunnah wa al jamaah dalam membangkitkan nasionalisme. Namun pada fase selanjutnya berkembang menjadi Lembaga Pendidikan yang independen dalam bentuk Madrasah Islamiyah (Madrasah Islamiyah Surya Sumirat Afdeling Taswirul Afkar).

Bersama dengan Kia Mas mansur, Kiai Abdul Wahab Hasbullah mengumpulkan sejumlah ulama dan mendirikan Nahdlatul Wathan (Kebangkitan Tanah air) yang memperoleh kedudukan dan berbadan hukum pada tahun 1916.

 

Mendirikan Nahdlatul Wathan (1916), Dari pendirian ini Kiai Abdul Wahab Hasbullah mendapat kepercayaan dan dukungan penuh dari para kiai, di antaranya adalah Kiai Alwi Abul Aziz, Kiai Maksum, dan Kiai Khalil (Lasem). Nahdlatul Wathan ini adalah Lembaga Pendidikan sebagai tindak lanjut dari Taswirul Afkar yang telah membuka jalur pendidikan sebagai media rekrutmen dan sosialisasi politik dalam membangkitkan kesadaran nasional. Beberapa sekolah yang sudah didirikan adalah :

  • Sekolah/Madrasah Ahloel Wathon di Wonokromo Surabaya
  • Sekolah/Madrasah Farol Wathon di Gresik
  • Sekolah/Madrasah Hidayatoel Wathon di Jombang
  • Sekolah/Madrasah Khitaboel Wathon di Surabaya

 

Kiai Wahab juga sangat peduli dengan pemuda, maka pada tahun 1924 dia mengumpulkan beberapa pemuda Syubabul Wathon (Pemuda Tanah Air). Organisasi inilah yang pada  akhirnya menjadi cikal bakal Gerakan Pemuda Ansor yang lahir pada tahun 1934.

 

Mendirikan Nahdlatul Tujjar (1918), Selanjutnya KH Wahab Hasbullah juga mendirikan organisasi Nahdlatul Tujjar atau Kebangkitan Saudagar pada Tahun 1918. Tujuan pendirian organisasi ini adalah untuk membenahi perekonomian umat Islam atas keserakahan dan monopoli kaum kolonialisme Belanda. Semangat gerakan Nahdlatul Tujjar adalah agar umat Islam tidak selalu menggantungkan perekonomiannya di bawah tekanan kekuasaan kaum kolonialisme, disamping itu diajarkan pula  agar bisa menjadi mandiri dalam hal perekonomian. Mengingat alam Nusantara adalah kaya raya akan hasil alam yang melimpahruah yang seharusnya dinikmati sepenuhnya oleh masyarakatnya. Melihat fakta dan kenyataan bahwa banyak kaum pribumi yang tertindas dan ternyata para pengusaha pribumi hanya dijadikan alat untuk mencapai tujuan para kolonialis maka para pedagang desa di daerah Cukir Jombang yang tinggal di sekitar pabrik gula memprakarsai didirikannya Nahdlatul Tujjar.

 

Mendirikan Komite Hijaz (1926), Pendirianya tidak dapat dipisahkan dengan situasi politik yang ada di Arab. Pada Tahun 1923 kekuasaan kekalifahan Turki di negeri Arab yang dipimpin oleh Syarif Husein jatuh ke tangan Ibn Sa’ud yang didukung oleh kelompok wahabi. Di Indonesia para kiai memandang bahwa peristiwa tersebut akan memiliki pengaruh dan dampak terhadap penganut akidah Ahlussunah wal Jama’ah, karena muslim di Indonesia menganut konsep empat madzhab sementara wahabi tidak mengenal pola madzhab. Oleh sebab itu eksponen-eksponen Tashwirul Afkar, Nahdlatul Wathan, dan Syubabul Wathan yang secara substansial adalah satu aliran dan satu akidah akhirnya melebur menjadi satu ikatan yang diberi nama Komite Hijaz. Pada saat awal pembentukanya  Komite Hijaz  dipimpin oleh Kiai Bisri Syansuri dari Jombang, Kiai Ridwan dari Semarang, Kiai Raden Asnawi dari Kudus, Kiai Nawai dari Pasuruan, Kiai Nahrawi dari Malang, Kiai Alwi Abdul Aziz dari Surabaya, dan beberapa ulama lainnya. Selanjutnya atas inisiatif dari Kiai Abdul Wahab Hasbullah para tokoh kiai tersebut berkumpul melakukan pertemuan di Surabaya pada tanggal 16 Rajab 1334 H yang bertepatan dengan tanggal 31 Januari 1926 dan memutuskan Keputusan sebagai berikut:

  1. Mengirimkan delegasi Kongres Dunia Islam demi memperjuangkan hukum menurut empat madzhab (Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hambali) agar mendapat perlindungan dan kebebasan di wilayah kekuasaan Raja Ibn Sa’ud di Saudi Arabia.
  2. Membentuk suatu Jam’iyah Nahdlatul Ulama (Kebangkitan para ulama) yang berjuang menegakkan syariat Islam yang berhaluan salah satu dari empat madzhab.

 

Untuk sementara saat itu kepengurusan Syuriah dan Tanfidziyah Nahdlatul Ulama dipercayakan kepada Kiai Alwi Abdul Aziz dari Surabaya. Sementara itu delegasi yang dikirim ke Makkah untuk menyampaikan surat kepada Raja Arab Saudi dipimpin oleh Syekh Ganaim  dan misi tersebut membawa hasil yang sukses.

Meskipun demikian Kiai Abdul Wahab Hasbullah tidak bersedia untuk menduduki jabatan sebagai Rais Akbar yaitu puncuk pimpinan dalam NU. Jabatan ini diserahkan kepada Kiai Hasyim Asy’ari dan wakilnya adalah Kiai Ahmad Dahlan dari Surabaya, sedangkan ketua Tanfidziyahnya dipercayakan kepada Haji Hasan Gipo. Kiai Abdul Wahab Hasbullah merasa cukup sebagai Katib Aam Syuriah. Demikianlah sekelumit cikal bakal perjalanan sejarah berdirinya Nahdlatul Ulama.

banner 728x90

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *