Media NU Jakarta Barat
Indeks
banner 728x250
Opini  

“Guah Mau Tanya…. Manfaat dari PBNU untuk Negara Apa?”

Oleh : Sudarmoyo /Mahasiswa S2 Manajemen Unis Syekh Yusuf Tangerang

Sudarmoyo H Soewarto
Twitter sering kali menjadi platform yang digunakan untuk aktivisme dan advokasi di Indonesia. Aktivis, organisasi non-pemerintah, dan kelompok masyarakat menggunakan Twitter untuk memobilisasi dukungan, menggalang dana, dan menyebarkan pesan tentang isu-isu sosial, lingkungan, dan kemanusiaan. Dengan cakupan yang luas dan kemampuan untuk membuat tagar viral, Twitter memungkinkan suara-suara minoritas untuk didengar oleh khalayak yang lebih luas.
Bagikan ke teman :

Hari Jumat kemarin (28/11) saya menjadi bualan-bulanan atau bahkan sasaran kemarahan oleh warga medsos X atau tweeter ketika saya mengomentari satu unggahan di akun X yang memposting postingan dengan Judul diksi “ Gus Yahya Copot Gus Ipul dari Sekjen PBNU” dari CNN. Unggahan tersebut telah dibaca atau dilihat oleh 108 ribu kali, disukai oleh 894 kali, diposting ulang 212 kali, dan dikomentari 260 kali.

Inilah dahsyatnya medsos, dalam waktu sekejab menjadi viral. Dari ratusan komentar tersebut menurut saya hanya 30 persen yang berpandangan positip terhadap NU, sisanya 70 persen menyalahkan dan “bahagia” ketika NU kisruh.

banner 400x130

Saya sangat tertarik dengan komentar berikut;

“Guah mau tanya,,, Manfaat dari PBNU untuk negara ini apa di jaman sekarang???? Apakah mereka ini telah berkontribusi terhadap rakyat indonesia???”

Kenapa saya sangat tertarik komentar tersebut, dan mengomentari postingan tersebut. Bagi saya, pandangan atau komentar tersebut sangat tendensius dan provokatif  bahkan kurang fair karena tidak disertai data, komentar pertanyaan tersebut terkesan menyerang atau boleh dikatakan juga mencemooh NU. Sebagai nahdliyin muncul perasaan tidak terima dibenak saya ketika NU dihina.

Anehnya, komentar tersebut disukai dan sudah dilihat 14 ribu orang.

Dengan rada mangkel, saya menulis komentar demikian;  “ Ini baca, buat melek ilmu” sambil menyertakan data grafis hasil survei Litbang Kompas pada bulan Januari 2025. Dalam grafis tersebut dikatakan bahwa 81,2 persen responden mengakui bahwa NU menjaga nilai Pancasila dan persatuan Indonesia.  Selanjutnya 87,5 persen responden mengakui peran NU dalam menjaga kerukunan beragama. Responden juga menyatakan bahwa 75,1 persen menyatakan bahwa nu berperan dalammemajukan pendidikan Indonesia.

Ternyata setelah saya posting data tersebut, apakah ejekan dan cacian mereda? TIDAK. Mereka bukanya ngeh atau paham dan mengakui kekeliruannya, justeru mereka rame-rame menyerang saya melalui komentar-komentar yang sinis dan provokatif. Itulah gambaran media sosial, ketika nalar waras sudah tidak dipakai dan hanya kebencian yang ada sebaiknya kita tinggalkan saja. Toh kita sudah menyertakan data bantahan atau riset dari pihak ketiga yang independen.

 

Maindset

Manusia sangat dibentuk oleh pikirannya sendiri adalah parafrase dari sebuah kutipan terkenal, yang paling sering diatribusikan kepada Buddha.

Kutipan aslinya dalam bahasa Inggris sering diterjemahkan menjadi: “Apa yang kamu pikirkan, itulah dirimu. Apa yang kamu rasakan, itulah yang kamu tarik. Apa yang kamu bayangkan, itulah yang kamu ciptakan.”

Ide dasarnya adalah bahwa keyakinan, sikap, dan pola pikir seseorang secara langsung membentuk realitas, pengalaman, dan karakter mereka. Ini adalah prinsip sentral dalam banyak filosofi dan ajaran spiritual, yang menekankan kekuatan mentalitas dan fokus internal dalam menentukan kehidupan seseorang.

Perilaku manusia dalam konteks diri (self) tidak dapat diatributkan secara sederhana kepada kebutuhan, dorongan impuls, tuntutan budaya, atau peran yang diemban. Sebaliknya, tindakan individu didasarkan pada definisi atau penafsiran mereka terhadap objek-objek di sekitar mereka, menjadikan hubungan antara pikiran (mind) dan diri (self) sebagai bagian integral dari perilaku manusia. Berpikir merupakan hasil interaksi antara “diri” individu dengan orang lain, di mana tidak ada pemikiran yang muncul secara terpisah dari konteks sosial, melainkan terikat pada situasi yang tengah dihadapi. Jadi respon atau tanggapan seseorang terhadap fenomena disekitarnya akan tergantung mindset yang ada pada pikiranya.

Menurut para ahli, mindset adalah sekumpulan kepercayaan atau pola pikir yang membentuk cara seseorang memandang dunia, diri sendiri, dan tantangan dalam hidup, serta memengaruhi perilaku, sikap, dan hasil yang akan dicapai.

Psikolog ternama Carol S. Dweck, misalnya, membedakan dua jenis mindset utama: fixed mindset (keyakinan bahwa kemampuan bersifat tetap) dan growth mindset (keyakinan bahwa kemampuan bisa dikembangkan melalui usaha dan kerja keras. Ijinkan saya untuk tidak membahas pendapat ahli psikologi terbut.

Jadi sudah cukup jelas bukan, berdasar pada keterangan dn paparan oleh ahli bahwa perilaku, sikap, dan cara pandang seseorang dalam mensikapi fenomena sangat dipengaruhi oleh mindsetnya.

Dengan melihat kasus tweeter tersebut, janganlah lelah untuk tetap menebar kebaikan meskipun kecil ataupun sepele. Ingatlah satu metafora oleh Sayyid Qutb yang menyatakan bahwa satu peluru hanya dapat menembus satu kepala tetapi satu tulisan akan dapat menembus ribuan bahkan jutaan kepala!

banner 728x90

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *