Media NU Jakarta Barat
Indeks
banner 728x250
Opini  

سَنَةٌ جَدِيدَةٌ، وَهِمَّةٌ مُتَجَدِّدَةٌ (Tahun Baru, Semangat yang Diperbarui)

Oleh : Achmad Sauri – Pengurus PCNU Jakarta Barat

Sudarmoyo H Soewarto
Segenap jajaran redaksi nujakbar.or.id mengucapkan "Selamat Tahun Baru 2025, Damailah negeriku dan sejateralah bangsaku"
Bagikan ke teman :

Pergantian tahun dalam tradisi Nahdlatul Ulama bukan sekadar perubahan waktu, melainkan momentum muhasabah dan penguatan ishlah jam‘iyyah. Tahun baru menjadi ruang untuk memperbarui niat, meneguhkan semangat khidmah, serta memastikan arah perjuangan NU tetap berada dalam manhaj Ahlussunnah wal Jama‘ah an-Nahdliyah.

 

banner 400x130

Di akhir tahun 2025 Spirit ishlah yang telah di contohkan oleh Pengurus Besar Nahdaltul Ulama sejalan dengan pesan para ulama klasik NU yang menekankan pentingnya adab dan persatuan dalam berjuang. Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy‘ari dalam Adabul ‘Alim wal Muta‘allim menegaskan bahwa keberkahan ilmu dan perjuangan lahir dari ketulusan niat serta akhlak yang lurus. Pesan ini relevan dalam konteks jam‘iyyah: ishlah tidak akan bermakna tanpa adab, dan perubahan tidak akan berkah tanpa keikhlasan.

Dalam kepemimpinan jam‘iyyah, perbedaan peran dan pandangan adalah keniscayaan. Namun tradisi NU mengajarkan bahwa perbedaan tersebut harus dikelola dengan hikmah dan musyawarah. Kaidah Aswaja yang sangat populer menegaskan:

الِاخْتِلَافُ لَا يُفْسِدُ لِلْوُدِّ قَضِيَّةً
(Perbedaan tidak boleh merusak persaudaraan).
Kaidah ini menjadi fondasi etika berorganisasi agar dinamika internal tidak berubah menjadi perpecahan yang melemahkan jam‘iyyah.

Bisri Musthofa, kerap mengingatkan bahwa berjuang di NU bukan mencari menang sendiri, kepentingan pribadi atau bahkan menyebarkan hal-hal berita atau informasi yang membuat penggerak organisasi menjadi rapuh, dapat menjadikan permusuhan antar pengurus karena adanya adu domba antar penggerak organisasi, dan bahkan bisa merusak semangat perjuangan organisasi, itu semua harus  dihindarkan, yang dilakukan adalah  menjaga kemaslahatan bersama. Pesan ini sejalan dengan kaidah Aswaja:

دَرْءُ الْمَفَاسِدِ مُقَدَّمٌ عَلَى جَلْبِ الْمَصَالِحِ
(Mencegah kerusakan harus didahulukan daripada menarik kemaslahatan).

 

Dalam praktik jam‘iyyah, menjaga keteduhan organisasi dan keutuhan umat adalah bagian dari ishlah yang utama. Selain itu, prinsip tawazun (keseimbangan) mengajarkan NU untuk menempatkan nilai dan gerak secara proporsional. Kaidah  yang sering dijadikan rujukan menyatakan:

مَا لَا يُدْرَكُ كُلُّهُ لَا يُتْرَكُ كُلُّهُ
(Apa yang tidak dapat dicapai seluruhnya, jangan ditinggalkan seluruhnya).
Kaidah ini menguatkan semangat istiqamah dalam ishlah, meski dilakukan secara bertahap dan berkelanjutan.

 

Memasuki tahun baru, warga NU di semua tingkatan diajak untuk memperbarui semangat khidmah dengan tetap menjaga adab, persatuan, dan nilai-nilai Aswaja. Ishlah bukanlah perubahan yang gaduh, melainkan perbaikan yang meneduhkan, berangkat dari hati yang ikhlas dan semangat yang terus diperbarui.

 

Akhirnya, semoga tahun baru 2026 ini benar-benar menjadi awal bagi ishlah yang istiqamah dan berkelanjutan, dan semangat kita untuk berkhidmat semakin tulus, beradab, kokoh dalam menjaga persatuan jam‘iyyah, sebagaimana diajarkan para ulama NU: memperbaiki diri, menjaga persatuan, dan mengabdi dengan penuh keikhlasan demi Nahdlatul Ulama. Happy NU Year, Selamat Tahun baru 2026.

banner 728x90

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *