Pada awalnya Nahdlatul Ulama adalah organisasi keagamaan yang bernama Komite Hidjaz yang didirikan para Kiai pesantren dan Kiai kampung di daerah Kertopatan kota Surabaya, tepatnya di kediaman KH Wahab Hasbullah. Namun pada saat ini Nahdlatul Ulama telah menjelma menjadi satu kekuatan entitas yang sangat besar di Indonesia, data yang dirilis oleh Lembaga Survei Indonesia pada September 2023 menunjukan bahwa terdapat 56,9% dari jumlah penduduk Indonesia yang beragama Islam mengaku Nahdlatul Ulama. Jika Penduduk Indonesia yang beragama Islam sebesar 216,8 juta jiwa, artinya terdapat sekitar 123,3 juta orang Nahdlatul Ulama di Indonesia.
Para muasis Nahdlatul Ulama mungkin tidak pernah mengira jika NU akan menjelma menjadi organisasi keagamaan dan kemasyarakatan yang tumbuh sangat pesat dan tumbuh menjadi besar seperti saat ini. Namun para penerus Nahdlatul Ulama yakin bahwa para pendiri dan muasis Nahdlatul Ulama bukanlah Kiai sembarangan, bukanlah Kiai kampung yang kuno tetapi sebaliknya para muasis ini adalah Kiai langit, para aulia yang dekat dengan Allah SWT, para wali yang disayang oleh Allah SWT sehingga para muasis Nahdlatul Ulama kemungkinan juga sudah tahu bahwa dimasa depan Nahdlatul Ulama akan menjelma menjadi organisasi yang kuat dan besar. Makanya tidaklah berlebihan jika ada adagium di masyarakat bahwa Nahdlatul Ulama itu sangat keramat dan bertuah. Bahkan sering kita dengar guyonan di tengah-tengah masyarakat yang mengatakan bahwa jangan sekali-kali berani mengusik Nahdlatul Ulama jika tidak ingin kena tuahnya. Entah karena kebetulan atau tidak, faktanya sudah ada bukti nyata bahwa banyak ormas yang jatuh atau bubar gegara melawan Nahdlatul Ulama. Sejarah mencatat beberapa organisasi yang tumbang dan bubar setelah “melawan” Nahdlatul Ulama di antaranya adalah Partai Masyumi, PKI (Partai Komunis Indonesia) dan DI/TII (Darul Islam/Tentara Islam Indonesia). Menghadapi konflik dengan PKI, Nahdlatul Ulama sudah habis-habisan dan mati-matian hingga mengalami kerugian yang sangat besar baik dari sisi energi, harta benda, bahkan nyawa. Akibat konflik tersebut banyak para ulama, kiai, dan tokoh-tokoh Nahdlatul Ulama yang menjadi korban perampasan harta bendanya, tanahnya, sawahnya oleh PKI. Bahkan banyak kiai yang menjadi korban pembunuhan oleh PKI. Pemberontakan PKI terhadap Negara Indonesia selalu bersinggungan dan berhadapan langsung dengan warga Nahdlatul Ulama. Dimulai dari peristiwa pembrontakan PKI di Madiun pada tahun 1948, selanjutnya peristiwa Gerakan 30 September 1965 di Jakarta. Tragedi tersebut menimbulkan pembunuhan massal terhadap anggota dan simpatisan Partai Komunis Indonesia (PKI) antara 1965-1966. Akibat atau ekses dari peristiwa tersebut kurang lebih 430 ribu jiwa menjadi korban (Kompas/14/10/2022). Sebuah fakta yang sangat tragis dan menyedihkan adalah bahwa mereka melawan saudara sebangsanya sendiri. Semoga peristiwa tersebut tidak terulang lagi pada kemudian hari.
Dimulai dari kota Sabang sampai dengan kota Merauke, dari pulau Miangas di utara sampai dengan pulau Rote di Selatan, Nahdlatul Ulama seakan berdiri kokoh membentang membentuk cincin pegunungan sirkum pasifik yang mengelilingi Negara Kesatuan Republik Indonesia. Cabang-cabang baru kepengurusan Nahdlatul Ulama terbentuk bak jamur yang tumbuh di musim hujan. Membentang dari ujung Aceh hingga ujung Kota Merauke Papua, perwakilan-perwakilan Nahdlatul Ulama terbentuk disetiap kota hingga desa, bahkan Nahdlatul Ulama juga berdiri kokoh di benua Australia, benua Afrika, dan benua Eropa. Timbul pertanyaan kenapa NU begitu tumbuh sangat pesat dan dicintai umat islam? Jawabanya adalah sikap dan karakteristik orang-orang NU yang sangat dominan dalam muamalahnya. Karakter adalah watak perangai atau sifat kebiasaan yang diulang-ulang sehingga membentuk/menyatu dengan pelakunya. Contohnya adalah Tawasulan, Tahlilan, Manakiban, Yasinan, Barjanjian, Semaan, Ziarah kubur, Maulidan, dan lain sebagainya adalah muamalah warga nahdliyin yang selalu dilakukan terus menerus dan disesuaikan pada momen-momen tertentu oleh masyarakat. Muamalah atau ritual tersebut sejalan dengan tradisi Masyarakat dan diterima oleh Masyarakat muslim di Indonesia. Dari sini membuktikan bahwa kehadiran Nahdlatul Ulama sangat dicintai oleh umat islam lintas generasi dan lintas Negara. Nahdlatul Ulama juga sudah banyak berkiprah dan berperan untuk negara. Sejarah mendokumentasikan bagaimana Nahdlatul Ulama selalu berperan aktif saat merintis maupun mengisi kemerdekaan Negara Republik Indonesia dengan berbagai kegiatan yang bertujuan untuk kemaslahatan umat. Nahdlatul Ulama juga berdedikasi dalam dunia Pendidikan, sekolah-sekolah Nahdlatul Ulama dari tingkat TK hingga Perguruan Tinggi berdiri di berbagai kota. Pesantren-pesantren Nahdlatul Ulama berdiri dimana-mana, bahkan pesantren yang berafiliasi dengan Nahdlatul Ulama diperkirakan berjumlah sekitar 26 ribu. Dalam bidang Kesehatan, Nahdlatul Ulama mendirikan klinik kesehatan dan rumah sakit untuk melayani masyarakat. Lembaga perekonomian masyarakat seperti koperasi dan lembaga keuangan Nahdlatul Ulama juga banyak berperan membantu perekonomian masyarakat. Kita berharap kedepan Nahdlatul Ulama makin solid, maju, kuat, dan makin banyak berperan untuk bangsa Indonesia.
Nahdlatul Ulama beraqidah Islam menurut faham Ahlus Sunah wal Jama’ah, dalam bidang aqidah mengikuti madzab Imam Abu Hasan Al-Asy’ari dan Imam Abu Mansyur Al-Maturidi. Dalam bidang Fiqih mengikuti salah satu 4 (empat) madzhab yaitu Imam Hanafi, Imam Maliki, Imam Syafi’i, dan Imam Hambali. Sedangkan dalam bidang tasawuf mengikuti madzhab imam Al-Junaid Al-Bagdadi dan Imam Abu Hamid Al-Ghazali.
Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia, Nahdlatul Ulama berasaskan pada Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Sehingga keberadaanya dapat diterima oleh seluruh lapisan masyarakat, karena Nahdlatul Ulama mampu menghadirkan landasan dalam bersikap dan bertindak sesuai dengan konsep Islam rahmatan lil alamin. Adapun 4 (empat) landasan dan konsep yang menjadi karakteristik kemasyarakatan warga Nandlatul Ulama adalah sebagai berikut:
- Tawassuth & I’tidal (moderat & teguh)
Yakni satu sikap netral yang berintikan pada prinsip hidup yang menjunjung tinggi nilai-nilai keadilan dan lurus serta menghindari segala bentuk pendekatan yang bersifat tatharruf (ekstrem). Sikap ini lebih dikenal dengan istilah moderat (al-wasthiyyah). Moderat atau moderasi dalam perspektif Khaled Abou El Fadl senada dengan istilah mordenis, progresif, dan reformis. Muslim yang moderat adalah mereka yang menerima khazanah tradisi dan modifikasi beberapa aspek darinya untuk memenuhi tujuan moral iman.
Tawassuth atau moderat termasuk ke dalam sikap yang diperintahkan oleh Allah dan dianjurkan oleh Rasulullah. Allah berfirman dalam surat Al-Baqarah ayat 143 :
وَكَذٰلِكَ جَعَلْنٰكُمْ اُمَّةً وَّسَطًا لِّتَكُوْنُوْا شُهَدَاۤءَ عَلَى النَّاسِ وَيَكُوْنَ الرَّسُوْلُ عَلَيْكُمْ شَهِيْدًاۗ
“Dalam demikian kami jadikan kamu sekalian (umat Islam) umat pertengahan (adil dan pilihan) agar kamu menjadi saksi (ukuran penilaian) atas (sikap dan perbuatan) manusia umumnya dan supaya Allah menjadi saksi (ukuran penilaian) atas (sikap dan perbuatan) kamu sekalian.”
Beberapa contoh sikap tawassuth:
- Tidak membeda-bedakan golongan, suku, ras, dan agama dalam berinteraksi dan berkomunikasi.
- Menjalin silaturrahim antar sesama agar tidak timbul pertikaian dan permusuhan.
- Dapat menerima pendapat orang lain meski tidak sepaham.
- Menerima saran, masukan, kritik membangun dari orang lain.
- Mempergunakan bahasa yang santun dan menyejukkan ketika berkomunikasi dengan orang lain.
- Bersikap toleran terhadap segala perbedaan yang ada.
- Tasamuh (toleran)
Adalah sikap toleran terhadap perbedaan pandangan baik dalam masalah keagamaan, terutama hal-hal yang bersifat furu’ atau menjadi masalah khilafiyah, serta dalam masalah kemasyarakatan dan kebudayaan.
Islam, adalah agama yang sangat menghargai perbedaan, dalam batasan tertentu. Nabi Muhammad Saw. telah memberikan contoh dalam hal tasamuh ini, yakni di saat ingin memajukan Madinah, yang di dalamnya banyak suku dan agama. Dalam al-Qur’an dijelaskan pada surah ke-109, Al Kafirun ayat 1-6:
Beberapa sikap tasamuh dalam kehidupan bermasyarakat di antaranya:
- Memperbolehkan teman atau individu lain beribadah sesuai dengan agama mereka.
- Tidak memaksakan orang lain untuk berpindah keyakinan.
- Tidak mengganggu proses ibadah agama orang lain.
- Tidak mencela dan merendahkan agama orang lain.
- Tidak menjadikan agama orang lain sebagai bahan gurauan.
- Tidak menjadi provokator ketika agama lain tengah merayakan hari besarnya.
- Berteman dengan semua orang, tanpa memandang apa latar belakang agama mereka.
- Tetap menjaga silaturrahim dengan tetangga, teman, maupun rekan kerja yang berbeda agama.
- Tetap menolong orang lain yang tengah tertimpa musibah walaupun latar belakang agama mereka berbeda dengan kita.
- Tidak mengganggu ketenangan ibadah yang dilakukan oleh umat beragama lain.
- Tawazun (seimbang)
Merupakan sikap seimbang dalam berkhidmat. Menyerasikan khidmah kepada Allah, khidmah kepada sesama manusia serta kepada lingkungan hidupnya. Menyelaraskan kepentingan masa lalu, masa kini dan masa mendatang.
Mengutip buku Raih Kekayaan Langgeng dengan The Power of Tawakkal oleh Tiana S Wijono, disebutkan bahwa Rasulullah pernah membahas tawazun ketika menasehati Abdullah bin Amr.
Ketika mengetahui sahabatnya itu terus melakukan ibadah puasa, salat, dan membaca al-Quran namun mengabaikan hak dirinya, hak istrinya, hak anaknya, dan hak orang lain yang ada di sekitarnya, beliau berkata kepada Abdullah bin Amr:
“Wahai Abdullah bin Amru, telah sampai berita kepadaku bahwa kamu berpuasa sepanjang hari dan salat sepanjang malam. Janganlah kamu lakukan, sebab jasadmu yang mempunyai hak atas dirimu, kedua matamu yang mempunyai hak atasmu, dan istrimu juga punya hak atasmu. Oleh karena itu, hendaknya kamu puasa dan juga berbuka. Berpuasalah tiga hari pada setiap bulannya, sebab itulah sebenarnya puasa sepanjang masa.” Saya (Abdullah bin Amru) berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya saya kuasa melakukannya.” Beliau bersabda, “Kalau begitu, berpuasalah sebagaimana puasa Daud AS, berpuasalah sehari dan berbukalah sehari. ” Di kemudian hari ‘Abdullah bin Amru pun berkata, “Duhai., Sekiranya kau mengambil rukhshah (keringanan) itu” (Muslim, Kitab: Puasa, Bab Larangan untuk puasa dahr, hadis no. 1973)
Dari hadis tersebut dapat disimpulkan bahwa sikap tawazun diperlukan oleh setiap muslim. Seorang muslim hendaknya senantiasa menyeimbangkan kehidupan dunia dan akhiratnya, tidak condong pada salah satu di antaranya.
Jalankanlah ibadah seperti salat, puasa, zakat, membaca al-quran, dzikir, dan lain-lain sebagai bentuk takwa seorang hamba kepada Allah SWT. Namun tidak mengabaikan hak dirinya dan orang di sekitarnya. Manfaat dari Tawazun adalah mendapatkan kebahagiaan hidup, ketenangan jiwa, kebahagiaan dzahir .
Contoh manusia yang tidak bertawazun : Orang yang hanya mempergunakan jasadnya saja untuk melaksanakan segala aktivitas harianya (seorang Materialis). Orang yang hanya mengedepankan jiwa/ruh/hati saja tanpa akal dan jasad (seorang Panthaisme). Orang yang hanya mengandalkan rasio/akal tanpa melibatkan hati dan kekuatan raganya (seorang Atheis).
- Amar Ma’ruf Nahi Munkar
Yakni mendorong perbuatan yang baik, berguna, dan bermanfaat bagi kehidupan Bersama, serta menolak dan mencegah semua hal yang dapat menjerumuskan dan merendahkan nilai-nilai kehidupan.
Amar ma’ruf nahi munkar merupakan prinsip utama yang harus dipegang oleh umat muslim. Prinsip ini menekankan pada perintah menyeru kebaikan dan mencegah keburukan. Dalam surat Ali Imran ayat 104, Allah Swt berfirman:
وَلْتَكُنْ مِّنْكُمْ اُمَّةٌ يَّدْعُوْنَ اِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ ۗ وَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ
“Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.”
Adapun contoh perbuatannya, di antaranya :
- Menghormati dan menyayangi orang tua.
- Menghormati dan menyayangi pasangan, anak, dan keluarga.
- Mengamalkan Rukun Islam dengan konsisten.
- Bersikap jujur kepada diri sendiri maupun terhadap orang lain.
- Bersabar dalam menghadapi ujian dari Allah.
- Gemar membantu orang
- Gemar bersedekah dan berbagi.
- Menjaga dan menjalin silaturahim.
- Menghormati saudara, teman, tetangga dan orang lain.
- Dan lain-lain
Intinya bahwa perintah tentang amar ma’ruf nahi mungkar ini erat kaitanya dengan akhlak dan adab seseorang.

















