Harini ini Jumat (05/12) secara maraton selama kurang lebih sebulan PCNU Jakarta Barat akan melaksanakan agenda Konferensi Wakil Cabang di beberapa Majelis Wakil Cabang atau pengurus NU tingkat Kecamatan yang akan dimulai dari Kecamatan Kalideres. Legal satanding dari Konferensi Wakil Cabang ini adalah Anggaran Dasar (AD) Pasal 23 poin (e) dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) pasaal 82 ayat (1) dinyatakan bahwa; “Konferensi Wakil Cabang adalah forum permusyawaratan tertinggi untuk tingkat wakil cabang”. Sedangkan pada ayat (2) dinyatakan Konferensi Wakil Cabang membicarakan dan menetapkan: (a) Laporan pertanggungjawaban (b) Pokok-pokok Program Kerja lima tahun, (c) Hukum atas masalah keagamaan, (d) Rekomendasi Perkumpulan, (e) Ahlul Halli wal ‘Aqdi, dan (f) Memilih Ketua Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama.
Beberapa bulan yang lalu, tepatnya pada bulan Juli 2025 penulis telah dinyatakan lulus dari kaderisasi NU dengan mengikuti Pendidikan Menengah Kepemimpinan Nahdlatul Ulama (PMKNU) selama satu minggu di Ciapayung, Bogor, Jawa Barat. Dengan sistem pembelajaran yang ketat,disiplin tinggi, dan menyelesaikan 20 modul pembelajaran yang diasuh langsung oleh para instruktur terbaik dari PBNU yang sudah tersertifikasi dan terakriditasi sebagai instruktur tingkat Nasional.
Kaderisasi adalah suatu proses kegiatan baik fisik maupun non fisik yang dilakukan secara berjenjang dan berkelanjutan dan melibatkan anggota, calon pengurus, dan Pengurus Nahdlatul Ulama dalam waktu tertentu, dengan tujuan memastikan terjadinya proses pergantian kepemimpinan agar sesuai arah dan tujuan yang telah ditentukan Perkumpulan Nahdlatul Ulama.
Pendidikan PMKNU memiliki tujuan yang sangat baik dan mulia yaitu untuk melahirkan atau mencetak pemimpin perkumpulan NU yang memiliki kompetensi, komitmen, militan, dan bertanggungjawab terhadap jalannya perkumpulan dari sisi fikrah, amaliyah dan harakah.
Pemimpin Visioner & Koheren
Ada ungkapan yang popular yaitu leader are born and not made (pemimpin dilahirkan bukan dibentuk atau diciptakan), leader are made and not made (pemimpin dibentuk bukan dilahirkan).
Ungkapan “pemimpin dilahirkan bukan dibentuk” (leaders are born, not made) dan “pemimpin dibentuk, bukan dilahirkan” (leaders are made, not born)
Mencerminkan perdebatan klasik dalam teori kepemimpinan, di mana yang pertama merujuk pada teori sifat (teori ‘manusia hebat’) yang percaya pemimpin punya bakat alami, sementara yang kedua menekankan bahwa kepemimpinan dapat diasah lewat pendidikan, pengalaman, dan kerja keras, seperti kata legenda Vince Lombardi. Pandangan modern cenderung menyimpulkan bahwa keduanya berperan, kombinasi dari faktor bawaan dan lingkungan (pengasuhan, pelatihan, pengalaman) membentuk pemimpin yang efektif, dengan faktor lingkungan seringkali lebih dominan.
Dari ungkapan diatas setiap manusia punya peluang untuk menjadi pemimpin, apakah dilahirkan ataupun dibentuk (ditempa). Jadi yang ideal Adalah pemimpin yang dilahirkan dan dibentuk (leader are born and made).
Lantas seperti apakah pemimpin yang diharapkan?
Jika mengacu pada materi dan target dari Pendidikan Menengah Kepemimpinan NU, Pemimpin dan Kepemimpinan yang diharapkan adalah kepemimpinan yang memiliki kemampuan untuk mengendalikan, memimpin, mempengaruhi fikiran, perasaan atau tingkah laku orang lain untuk mencapai tujuan Nahdlatul Ulama sebagaimana diatur dalam AD/ART NU, Perkum NU dan Peraturan PBNU.
Pemimpin NU masa depan harus visioner hingga memiliki kemampuan manajerial. Ciri-ciri pemimpin visioner adalah memiliki visi yang jelas, memahami perubahan baik nasional maupun global, mampu mengantisipasi perubahan nasional dan global, dan memberikan inspirasi dan motivasi terhadap anggota organisasi.
Yang kedua kepemimpinan yang mampu membangun perkumpulan koheren, yaitu Pemimpin yang perkataan, tindakan, dan nilai-nilainya selaras dan konsisten secara internal, serta relevan dengan visi dan tujuan organisasinya.
Ciri-ciri utama dari pemimpin yang koheren meliputi:
- Konsisten antara ucapan dan tindakan: Pemimpin ini mempraktikkan apa yang mereka khotbahkan dan menunjukkan konsistensi dalam sikap serta tindakan mereka, sehingga bisa menjadi panutan bagi orang lain.
- Kejelasan visi dan tujuan: Mereka mampu mengomunikasikan visi yang jelas dan memastikan semua bagian dalam organisasi memahaminya, menciptakan keselarasan tujuan di antara anggota tim.
- Hubungan logis dan serasi: Terdapat hubungan timbal balik yang serasi antara strategi, keputusan, dan implementasi, memastikan semua upaya saling mendukung untuk mencapai hasil yang diharapkan.
- Integritas dan moralitas: Perilaku mereka didasari oleh nilai-nilai moral dan etika yang kuat, membangun rasa percaya dan kredibilitas di mata tim.
- Komunikasi yang efektif: Mereka berkomunikasi secara terbuka dan efektif, memastikan kesinambungan makna dan pemahaman yang sama di seluruh tingkatan organisasi.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa memasuki abad kedua, NU membutuhkan pemimpin yang visioner dan koheren yaitu Pemimpin yang memiliki manajerial yang baik, memiliki visi dan misi yang dinamis, mampu membaca perubahan global serta mengatisipasi perubahannya, memberikan motivasi dan inspirasi, mensinkronkan antara perkataan, tindakan, dan nilai-nilainya selaras dan konsisten secara internal, serta relevan dengan visi dan tujuan organisasinya.
Selamat melaksakan Konferensi Wakil Cabang, Semoga berjalan lancar, sukses, dan mendptkan pemimpin NU yang visioner dan Koheren.
*Ini pandangan pribadi penulis, diolah dari berbagai buku & sumber. Tabik

















