Media NU Jakarta Barat
Indeks
banner 728x250
Opini  

NU Abangan?

Dalam satu kesempatan KH Miftah Maulana Habiburrahman (Gus Miftah) mengatakan bahwa orang yang ngaku Nahdlatu Ulama (NU) itu ada lima model atau tipe, yaitu Orang NU abangan, Orang paham NU tetapi cuek dengan NU, Orang yang memanfaatkan NU, Orang yang benci NU, dan yang terakhir adalah Santri NU.

Sudarmoyo H Soewarto
Warga Dusun Badut, Kelurahan Karangbesuki, Kecamatan Sukun, Kota Malang menggelar bersih desa di Candi Badut, Minggu (22/7/2018). Ritual adat bersih desa itu dilaksanakan setiap tahun sekali, yakni pada Senin Wegi, Bulan Selo menurut penanggalan Jawa, sebagai ekspresi rasa syukur warga atas nikmat yang didapatnya.(KOMPAS.com/ANDI HARTIK)
Bagikan ke teman :

Dalam Masyarakat Jawa dikenal tiga macam varian keberagamaan masyarakat, yaitu: abangan, santri, dan priyayi (trikotomi). Ketiga istilah ini sudah ada sejak lama dan bahkan istilah abangan dan santri telah ditulis dalam sebuah risalah oleh seorang peneliti Belanda pada tahun 1800-an. Namun yang membuat istilah “abangan dan santri” terkenal dan menjadi pembicaraan dunia keilmuan adalah seorang sarjana antropologi bernama Clifford Geertz (1926-2006) yang meneliti kehidupan sosial keagamaan masyarakat Jawa dengan mengambil desa Mojokuto Kediri sebagai subyek penelitiannya. Hasil penelitiannya dibukukan dengan tajuk “The Religion of Java.” Walau buku itu hasil dari penelitian di tahun 50-an, namun hingga kini kategori santri-abangan masih valid dan relevan digunakan untuk membaca fenomena sosial keagamaan masyarakat Jawa. Meskipun pendapat Cliffrd Geertz mendapat kritik yang keras dari berbagai kalangan dan akademisi tapi faktanya ketiga istilah tersebut masih sering digunakan hingga saat ini.

Dalam kesempatan lain, keempat model tersebut insyallah akan saya kupas dan tulis dalam bentuk opini agar kita memiliki gambarannya. Tentu saja opini tersebut menurut pandangan dan sependek pengetahuan maupun sumber referensi yang saya kuasai dan miliki.

banner 400x130

Kembali soal diksi Abangan, abangan merupakan golongan penduduk Jawa Muslim yang mempraktikkan Islam dengan berbagai macam aliran, seperti Hindu, Buddha, dan animisme (baca sinkritisme).  Abangan cenderung mengikuti sistem kepercayaan lokal secara adat dari pada hukum Islam murni atau syariah.  Terdapat beberapa sumber yang juga menyebutkan bahwa istilah Abangan muncul sebagai pembeda terhadap kaum Putihan. Dalam konteks kini, abangan bisa dikatakan sebagai islam minimalis, ngakunya islam tetapi tidak melaksakan rukun atau kewajiban sebagai muslim.

Jika boleh disimpulkan, abangan merujuk kepada golongan sosial yang kurang menjalankan rukun dan peribadatan agama Islam secara lengkap seperti salat, puasa, zakat, dan haji. Istilah abangan sendiri baru muncul sekitar abad ke-19.  Kata abang berasal dari bahasa Jawa ngoko yang berarti merah, sehingga kaum Abangan adalah “orang merah” yang dibedakan dari kaum putihan atau kaum kiai dan santri. Kaum santri adalah orang Islam yang menjalankan ajaran-ajaran Islam, berpegang secara murni kepada kitab suci dan sunnah Nabi. Sederhananya golongan putihan adalah golongan masyarakat Jawa yang saleh dan berkegiatan secara profesional dalam dunia masjid dan urusan agama. Namun untuk sementara ini ijinkan saya tidak membahas tentang kaum santri.

 

Apa arti abangan?

Sebetulnya, arti istilah abangan itu cukup jelas, walaupun kadang-kadang muncul sedikit kekacauan mengenai etimologinya. Kata itu berasal dari Bahasa jawa ngoko abang  yang berarti “merah”. Jadi wong abangan  adalah “orang merah” yang dibedakan dari wong putihan yaitu orang saleh yang menganggap diri sebagai “orang putih”. Dalam Masyarakat jawa orang abangan identic dengan islam minimalis, ngagku islam tapi tidak melaksanakan  sholat, zakat, puasa dan hukum lainnya. Sedangan orang putihan adalah orang islam yang memegang teguh ajaran agamanya dengan menjalankan islam secara utuh, mereka melaksanakan sholat, zakat, puasa, dan lainnya.

Kembali istilah “NU abangan”, menurut tafsir KH Miftah adalah kelompok orang yang sebenarnya tidak tahu tentang seperti apa dan bagaimana yang dimaksud dengan NU, namun mereka sangat bangga  mencintai NU. Kelompok ini bisa dianalogikan seperti buah semangka. Luarnya berwarna hijau tapi isinya merah. Maksudnya mereka adalah masyarakat yang mengaku warga NU namun sama sekali tidak memahami tentang prinsip dan ajaran NU. Jika disederhanakan dengan istlah kekinian kira-kira istilahnya NU minimalis atau NU KTP.

Untuk membuktikan pandangan Kiai Miftah, saya pernah melakukan observasi kecil dan mencoba melakukan wawncara kepada beberapa orang yang ngaku NU. Hasil yang saya dapatkan adalah mereka mengaku tahu NU tetapi tidak memahami apa itu NU, mereka juga tidak memahami bagaimana akidah NU, apa tujuan NU, bagaimana muamallah NU dijalankan. Mereka hanya mengatakan selama ini karena mengikuti ustad dan kiainya saja. Deal, rasanya hasil ini sangat klop atau relate dengan pandangan Gus Miftah.

Pada akhir tahun 2023, Lembaga Survei Indonesia (LSI) melakukan survey tentang NU di Indonesia. Hasilnya sungguh luar biasa, orang Islam yang mengaku sebagai NU sebesar 56,9% dari jumlah penduduk Indonesia yang beragama Islam. Artinya jika pada tahun 2023 penduduk Indonesia yang beragama Islam sebesar 216,8 juta jiwa, maka terdapat sekira 123,3 juta orang NU di Indonesia. Dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa NU adalah satu-satunya organisasi keagamaan terbesar di Indonesia bahkan di dunia. Saya tidak tahu berapa besar kira-kira jumlah NU abangan dari data tersebut karena belum pernah diadakan riset dan penelitian.

Meminjam istilah Prof. Mujamil Qomar dalam bukunya mengatakan bahwa jam’iyah dalam organisasi adalah nilai kebersamaan kemajemukan pola fikir yang disatukan sehingga menghasilkan rembuk yang tata tentrem karta raharja atau musyawarah mufakat itu sendiri dalam islamnya.

Maka tidaklah heran jika dalam satu kesempatan Gus Yahya pernah mengatakan bahwa cita-citanya adalah ingin “menjam’iyahkan” seluruh warga NU, sehingga tidak ada lagi istilah NU struktural dan NU kultural, semuanya akan satu yaitu NU. Dimana seluruh nahdliyin mengenal dan memahami ruh dan jiwa dari organisasi sehingga akan mengedepankan totalitas, kridibilitas, dan kualitas.

Wallahu a’lam bishawab.

banner 728x90

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *