Media NU Jakarta Barat
Indeks
banner 728x250
Opini  

PENDIDIKAN AGAMA ISLAM HOLISTIK INTEGRATIF SEBAGAI SOLUSI ATAS KEKERASAN PADA ANAK

Oleh : Ahmad Faujih,M.Pd. Ketua Lembaga Bathsul Masail (LBM) PCNU Jakarta Barat

Sudarmoyo H Soewarto
Hentikan kekerasan terhadap anak, perempuan, perdagangan manusia, (Foto: EHRC/Shkliarov)
Bagikan ke teman :

Pada akhir tahun 2025, Masyarakat Indonesia dikejutkan oleh suatu peristiwa di kota Medan, seorang anak diduga melakukan tindakan kekerasan terhadap ibu kandungnya. Kasus ini menurut suatu laporan dipicu oleh penghapusan game online oleh sang ibu, hal ini memantik perdebatan publik. Banyak pihak dengan cepat terfokus pada game sebagai sumber persoalannya, namun analisis yang lebih mendalam dari para psikolog forensik mengungkapkan bahwa game hanyalah salah satu faktor pemicu (trigger) dan penyedia model perilaku. Akar masalahnya justru jauh lebih kompleks, mencakup faktor kerentanan lain seperti kematangan emosi yang rendah, adiksi dan kemungkinan kesehatan mental yang belum terdeteksi.

Persoalan ini merupakan sinyal keras bagi kita semua, terutama dalam konteks pendidikan. Fenomena kekerasan, seperti ditegaskan oleh Dr. Muhhib Abdul Wahab, tidak hanya disebabkan oleh faktor personal, tetapi lebih jauh juga bisa disebabkan oleh faktor system sosial yang melingkupinya. Oleh karena itu, respons yang dibutuhkan bukan cuma sekedar penghakiman atau pelarangan, melainkan solusi konstruktif yang menyentuh akar persoalan. Tulisan ini bertujuan untuk menawarkan solusi berbasis nilai-nilai Pendidikan Agama Islam yang bersifat holistik dan integratif. Pendekatan ini berangkat dari keyakinan bahwa Islam dengan ajaran yang komprehensif, dapat memberikan kerangka yang sesuai dan  membangun sistem pencegahan kekerasan yang tepat sasaran. Dimulai dari unit terkecil masyarakat, yaitu keluarga. Kasus kekerasan anak terhadap ibu di Medan mengajarkan kepada kita bahwa kekerasan seringkali adalah puncak dari gunung es masalah. Untuk mengatasinya, diperlukan pendekatan yang menyeluruh dan mendalam.

banner 400x130

Game Sebagai Pemicu

Perlu dipahami dengan jelas bahwa game online berbau kekerasan, meski punya pengaruh, tetapi bukanlah penyebab tunggal dari tindakan ekstrim. Menurut psikolog forensik Reza Indragiri, game dapat memengaruhi pemain melalui dua mekanisme; hormonal yang dapat memicu ledakan dopamine dan adiksi, dan neurologis yang dapat mematikan titik emosi dan empati di otak. Paparan berulang terhadap kosakata dan adegan kekerasan dalam game menurut riset dapat membuat anak menganggap kekerasan sebagai perbuatan biasa dan wajar, serta dapat mengikis rasa empatinya.

Namun seperti diungkapkan psikolog Danti Wulan Manunggal, game memiliki peran sebagai trigger dan penyedia model prilaku. Tragedi terjadi Ketika triger ini bertemu dengan “faktor kerentanan lain” pada anak. Faktor kerentanan inilah yang seringkali bersumber dari lingkungan terdekat anak. Penelitian yang menganalisis kekerasan pada anak dari perspektif psikologi sosial dan budaya menyimpulkan bahwa kekerasan tidak hanya disebabkan oleh faktor individual, tetapi lebih jauh dapat dipengaruhi dinamika lain seperti peniruan perilaku dari lingkungan dan gangguan keterikatan emosional. Dalam konteks keluarga, kekerasan psikis dan verbal seringkali dinormalisasi sebagai metode disiplin, menciptakan siklus kekerasan yang diwariskan antar generasi. Oleh karena itu, solusi yang efektif harus mampu menangani baik faktor eskternal seperti paparan game maupun faktor internal keluarga yang menjadi lahan subur bagi benih kekerasan.

 

Tiga Pilar Solusi

Pertama, Lingkungan keluarga adalah sekolah pertama dan utama (al-ummah madrasatul ula). Dalam Islam, keluarga dibangun atas dasar tujuan untuk menciptakan ketentraman, cinta dan kasih sayang (sakinah, mawaddah,wa rahmah). Revitalisasi konsep keluarga Sakinah inilah yang menjadi pilar solusi utama. Keluarga harus difungsikan kembali sebagai baiti jannati (rumahku surgaku), yaitu tempat berlindung yang aman secara fisik dan psikis bagi anak.

Praktiknya adalah dengan menerapkan pola asuh islami yang seimbang dan penuh kasih sayang. Pola asuh ini menekankan komunikasi yang lembut (qaulan layyina), keteladanan (qudwah hasanah) dari orang tua, dan pendisiplinan yang edukatif tanpa kekerasan. Islam dengan tegas melarang kekerasan sebagai metode pendidikan, karena jalan kekerasan hanya akan menimbulkan trauma dan luka, baik fisik maupun batin. Sebagai gantinya, Pendidikan dalam keluarga harus diwarnai dengan kelembutan, keikhlasan, dan keridhaan. Orang tua perlu “mengikat hati” anak dengan cinta dan perhatian sebelum memberikan penjelasan dan nasihat. Ketika anak merasa dicintai, dihargai, dan aman untuk mengungkapkan perasaannya, maka kemarahan dan kekecewaannya tidak akan meledak menjadi kekerasan fisik. Keterikatan emosional yang kuat juga menjadi benteng agar anak tidak mencari pelarian dan validasi secara berlebihan di dunia maya.

Kedua, membangun imunitas spiritual melalui pendidikan akhlak yang intensif dan kontekstual. Pendidikan agama di rumah dan sekolah seharusnya mulai bergeser dari sekedar menghafal aturan (fiqh) menuju pemahaman dan penghayatan atas nilai-nilai akhlakul karimah. Anak perlu ditanamkan kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya, serta diajak memhami hikmah dibalik setiap kewajiban dan larangan. Misalnya, konsep birrul walidain yaitu berbakti kepada orang tua tidak diajarkan sebagai perintah kaku, tetapi sebagai jalan meraih keberkahan hidup dan ketentraman jiwa. Selain itu, dalam menghadapi era digital, anak harus dibekali dengan literasi agama digital. Mereka perlu diajarkan untuk menjadi konsumen media yang kritis, yang mampu memfilter setiap konten, temasuk game dengan pertanyaan sederhana misalnya: Apakah ini membuatku lebih dekat atau lebih jauh dari akhlak yang diajarkan Rasulullah? dengan fondasi akhlak yang kokoh, diharapkan anak memiliki ketahan diri (self control) dan kemandirian moral untuk menghadapi berbagai pengaruh negatif dari luar.

Ketiga, Keluarga tidak boleh dibiarkan berjuang sendirian. Pencegahan kekerasan adalah tanggung jawab kolektif (fardhu Kifayah). Disinilah peran sinergi tripusat pendidikan, keluarga, sekolah dan Masyarakat menjadi sangat penting. Sekolah dan madrasah harus bertransformasi menjadi zona aman yang bebas kekerasan (zero violence). Kurikulum Pendidkan Agama Islam perlu diintegrasikan dengan pendeketan holistic yang memprioritaskan kenyamanan dan keselamatan psikologis peserta didik.

Sementara itu, institusi sosial seperti majelis taklim, remaja masjid, dan organisasi keagamaan dapat berperan penting sebagai sistem pendukung. Mereka dapat menyelenggarakan program parenting Islami, konseling keluarga dan menyediakan kegiatan kreatif serta rekreatif yang positif sebagai alternatif dari kecanduan handphone. Langkah praktis mengatasi kecanduan game, seperti menetapkan batas waktu, mendampingi anak bermain, dan mengalihkan ke aktifitas lain, akan lebih efektif jika dilakukan dalam rangka kolaborasi ini. Sinergi ini menciptakan ekosistem yang konsisten, Dimana nilai-nilai kebaikan dan non kekerasan dikokohkan pada setiap lini kehidupan anak.

Tragedi kekerasan anak terhadap ibunya di Medan adalah cermin retaknya dari kegagalan multidimensional dalam sistem pengasuhan dan pendidikan kita. Menyalahkan game sebagai satu-satunya biang kerok adalah simplikasi yang berbahaya, karena akan mengalihkan perhatian dari akar masalah sesungguhnya yaitu lingkungan keluarga yang tidak sehat dan lemahnya fondasi karakter anak.

Solusi yang ditawarkan melalui pendekatan Pendidikan Agama Islam yang holistik berfokus pada pembangunan dari dalam. Contohnya adalah memperkuat tiga pilar : (1) Keluarga yang hangat dan komunikatif dengan pola asuh Islami, (2) Individu anak yang tangguh berlandasakan akhlak mulia dan imunitas spiritual, dan (3) Sinergi dari komunitas pendukung. Ketiganya bekerja bersama untuk menciptakan lingkungan yang tidak hanya mencegah kekerasan, tetapi juga menyembuhkan luka dan memutus rantai warisan kekerasan antargenerasi.

Pada akhirnya, tujuan pendidikan Islam bukanlah mencetak generasi yang hanya taat secara ritual, tetapi membentuk insan kamil, manusia utuh yang memiliki ketangguhan mental, kebijaksanaan moral, dan kemandirian spiritual. Hanya dengan fondasi yang kuat seperti inilah anak-anak kita akan mampu berdiri tegar, mampu membedakan baik dan buruk di dunia nyata maupun dunia digital, serta menjadikan nilai-nilai kasih sayang dan penghormatan sebagai pedoman hidup, jauh dari segala bentuk kekerasan.

banner 728x90

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *