Media NU Jakarta Barat
Indeks
banner 728x250
Opini  

RIBA DAPAT MEMICU INFLASI, MENGURANGI DAYA BELI, DAN MERUSAK STABILITAS EKONOMI

Oleh : Sudarmoyo H Soewarto

Bagikan ke teman :

Dalam konteks ekonomi global, riba telah menjadi topik yang kontroversial dan sering kali dianggap sebagai salah satu masalah utama dalam sistem keuangan modern. Dalam hukum Islam, riba atau bunga pinjaman merupakan praktik yang dilarang keras, karena dianggap merugikan pihak yang lemah dan menciptakan ketidakadilan dalam transaksi ekonomi. Al-Qur’an dan hadis secara eksplisit melarang riba karena dianggap melanggar prinsip-prinsip keadilan dan keseimbangan sosial. Di sisi lain, sistem keuangan modern, terutama di negara-negara Barat, masih sangat bergantung pada bunga sebagai sumber keuntungan utama dalam banyak lembaga keuangan. Ketidaksempurnaan ini memicu pertanyaan tentang dampak riba dalam kehidupan ekonomi serta bagaimana alternatif berbasis syariah dapat menawarkan solusi yang lebih adil.
Riba merupakan salah satu konsep yang diharamkan dalam hukum Islam dan memiliki dampak signifikan terhadap ekonomi individu dan Masyarakat (Efendi et al., 2024).
Ketika tingkat bunga naik, biaya pinjaman ikut meningkat, yang pada akhirnya dapat menekan pertumbuhan ekonomi. Beberapa peneliti mengusulkan bahwa bunga atau riba tidak hanya berdampak pada perekonomian mikro, tetapi juga memiliki efek domino pada ekonomi makro, berpengaruh pada inflasi, ketidakstabilan keuangan, dan bahkan ketimpangan sosial.

Diskripsi
Untuk itu kita perlu mengetahui istilah-istilah ekonomi dan pastinya sebagai pelaku ekonomi kita memerhatikan tentang naik serta turunnya harga barang. Fenomena ini dikenal dengan sebutan inflasi. Inflasi sangat berpengaruh karena akan menentukan harga pasar dari semua yang Anda butuhkan dalam kehidupan sehari-hari. Inflasi juga sangat berpengaruh bagi para pengusaha karena berkaitan dengan operasional perusahaan. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Inflasi diartikan sebagai kemerosotan nilai uang (kertas) karena banyaknya dan cepatnya uang (kertas) beredar sehingga menyebabkan naiknya harga barang-barang. Sementara pengertian lain dari Badan Pusat Statistik (BPS) menyebut bahwa inflasi adalah keadaan perekonomian negara di mana ada kecenderungan kenaikan harga-harga dan jasa dalam waktu panjang. Hal ini disebabkan karena tidak seimbangnya arus uang dan barang. Adapun kenaikan harga yang bersifat sementara seperti kenaikan harga menjelang Hari Raya Idul Fitri tidak termasuk ke dalam inflasi. Secara garis besar, inflasi disebabkan karena uang yang beredar di masyarakat lebih banyak daripada yang dibutuhkan.
Inflasi memiliki cukup banyak dampak bagi perekonomian suatu negara, diantaranya inflasi bisa menggerus daya beli masyarakat. Jika kondisi ini daya beli menurun, maka masyarakat akan lebih irit berbelanja. Padahal, motor penggerak ekonomi suatu negara salah satunya ditopang melalui konsumsi masyarakat. Jika masyarakat mengurangi belanja, otomatis pertumbuhan ekonomi akan bergerak lambat atau stagnan, bahkan bisa lebih rendah. Inflasi juga berpengaruh dan merugikan konsumen karena gaji atau penghasilan menjadi stagnan, tetapi biaya pengeluaran atau belanja membengkak karena kenaikan harga barang atau jasa yang menjadi kebutuhan utama.
Dampak selanjutnya dari inflasi adalah memengaruhi kemampuan ekspor sebuah negara. Akibat inflasi, biaya ekspor menjadi lebih mahal dan daya saing produk ekspor menurun yang bisa menyebabkan devisa berkurang. Inflasi juga bisa memengaruhi minat orang menabung di bank. Hal ini disebabkan karena bunga simpanan tabungan menjadi kecil karena tergerus inflasi. Belum lagi, menabung di bank juga mengeluarkan biaya administrasi setiap bulan, sehingga bunga yang diperoleh nasabah semakin minim. Lebih jauh, inflasi dapat mempengaruhi kestabilan mata uang suatu negara. Kestabilan kurs mata uang mengandung dua aspek, yakni kestabilan nilai mata uang terhadap barang dan jasa, serta kestabilan terhadap mata uang negara lain. Kondisi inflasi pun bisa mengakibatkan perhitungan penetapan harga pokok menjadi sulit, karena bisa menjadi terlalu kecil atau terlalu besar.
Riba secara umum diartikan sebagai pengambilan tambahan dari pokok pinjaman yang disepakati sebelumnya. Riba biasanya dikaitkan dengan suku bunga yang tinggi yang memberatkan para peminjam (Yusufy, n.d.)
Inflasi adalah kenaikan harga barang dan jasa secara umum dan terus-menerus dalam suatu periode tertentu. Inflasi bisa disebabkan oleh berbagai faktor, termasuk permintaan yang tinggi, biaya produksi meningkat, serta kebijakan moneter yang longgar (Yusufy, n.d.)
Lantas apa dampak dari riba terhadap ekonomi? Pertama, Ketidakstabilan Ekonomi: Ketika suku bunga tinggi, banyak Perusahaan dan individu yang gagal membayar utang, sehingga terjadi peningkatan kebangKrutan. Hal ini bisa menyebabkan krisis keuangan dan ketidakstabilan ekonomi yang lebih luas. Kedua, Ketimpangan Sosial: Riba cendrung memperkaya pemberi pinjaman dan memiskinkan peminjam. Hal ini memperburuk ketimpangan sosial dan ekonomi di Masyarakat. Orang-orang yang tidak mampu membayar bunga tinggi akan semakin terpuruk dalam kemiskinan. Ketiga, Efesiensi Ekonomi yang Rendah: Biaya pinjaman yang tinggi dapat menghambat investasi produktif. Perusahaan mungkin ragu untuk melakukan ekpansi atau inovasi karena takut tidak mampu membayar bunga pinjaman yang tinggi. Ini bisa mengurangi efesiensi ekonomi dan pertumbuhan jangka Panjang.
Kesimpulan
Praktik riba tidak hanya mempengaruhi inflasi melalui peningkatan biaya produksi dan penurunan daya beli, tetapi juga melalui dampaknya terhadap kebijakan moneter. Ketika bank sentral merespon inflasi dengan menaikkan suku bunga, efeknya seringkali perlambatan ekonomi. Perusahaan dan individu cenderung mengurangi pinjaman mereka, yang pada gilirannya dapat menurunkan investasi dan konsumsi.
Inflasi merupakan fenomena ekonomi yang mengacu pada kenaikan harga barang dan jasa secara umum dan terus-menerus dalam suatu perekonomian. Salah sartu faktor yang mempengaruhi inflasi adalah riba, yaitu praktik pemberian pinjaman dengan bunga yang tinggi. Inflasi merupakan masalah ekonomi yang serius di banyak negara. Kenaikan harga secara berkelanjutan dapat mengurangi daya beli masyarakat, merusak tabungan, dan menciptakan ketidakstabilan ekonomi. Tantangan inflasi dapat muncul akibat berbagai faktor, termasuk pertumbuhan moneter yang tidak terkendali, spekulasi berlebihan, dan praktik-praktik ekonomi yang tidak seimbang.
Dalam konteks keuangan Islam atau Islamic finance dapat memiliki peran yang penting dalam mengatasi inflasi melalui berbagai mekanisme ekonomi yang sesuai dengan prinsip-prinsip syariah. Meskipun tidak banyak penelitian eksplisit yang mengeksplorasi hubungan antara Islamic finance dan inflasi, beberapa argumen dan mekanisme yang mungkin relevan adalah:
Pertama, pendekatan berbasis aset dan investasi produktif. Islamic finance mendorong investasi dalam aset nyata dan bisnis produktif daripada spekulasi. Ini dapat membantu mencegah penumpukan aset finansial yang tidak produktif yang dapat memicu inflasi (Al-Muharrami, 2018). Hal ini sebagaimana Allah SWT berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama suka di antara kamu.” (Qs. An-Nisa : 29), Prinsip ini menunjukkan pentingnya perdagangan yang adil dan investasi yang produktif. Dengan menghindari praktik spekulasi yang dapat memicu inflasi, Islamic finance dapat membantu menjaga stabilitas harga(Nasution, 2022).
Kedua, pendekatan berbasis bagi hasil. Prinsip bagi hasil dalam Islamic finance mendorong pembagian keuntungan dan risiko di antara para pihak yang bertransaksi. Pendekatan ini dapat merangsang kegiatan ekonomi yang produktif dan mengurangi aktivitas spekulatif yang dapat memicu inflasi (Iqbal, 2011). Hadis Nabi Muhammadﷺ, “Bagian masing-masing dari dua belah pihak dalam transaksi yang melibatkan khatar (unsur ketidakpastian atau risiko) adalah menurut kesepakatan mereka.” Prinsip bagi hasil menciptakan insentif bagi pihak-pihak yang terlibat untuk berinvestasi dan bekerja sama dengan cara yang produktif. Ini dapat mengurangi spekulasi dan mendorong produksi yang lebih baik, yang dapat membantu mengendalikan inflasi (Nasution, 2022).
Ketiga, penghindaran riba (bunga). Keuangan Islam melarang riba atau bunga. Dengan menghindari bunga, Islamic finance dapat mencegah perangkat utang yang tidak terkendali yang dapat memicu inflasi (Hasan, 2010). Sebagaimana Allah SWT berfirman, “Orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan setan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba” (QS. Al-Baqarah: 275). Prinsip larangan riba menghindarkan praktik yang dapat memicu pengumpulan utang yang tidak terkendali, yang dapat berkontribusi pada inflasi (Nasution, 2022).
Keempat, pendekatan berbasis keadilan sosial. Islamic finance mendorong distribusi kekayaan yang lebih adil dan inklusif. Pendekatan ini dapat membantu mengurangi kesenjangan ekonomi yang dapat berkontribusi pada inflasi (Chapra, 1996). Allah SWT berfirman, “Dan janganlah kamu memakan harta di antara kamu dengan jalan yang bathil, dan (janganlah) kamu membawa urusan harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebagian harta orang lain dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui” (QS. Al-Baqarah: 188). Prinsip keadilan sosial mengingatkan pentingnya distribusi yang adil dan menghindari eksploitasi yang dapat menyebabkan ketidakstabilan ekonomi (Nasution, 2022).
Sudarmoyo H Soewarto
Mahasiswa S2 Manajemen – Universitas Islam Syekh Yusuf Tangerang

banner 400x130

DAFTAR PUSTAKA
Efendi, A., Septiani, C., Syakira, S., & Zilhazem, T. (2024). Dampak Riba dalam Kehidupan Ekonomi : Perspektif Syariah dan Ekonomi Kontemporer. 4.
Nasution, M. S. A. (2022). Inflasi: Peran Penguatan Islamic Finance. Fakultas Ekonomi Dan Bisnis Islam UIN Sumatera Utara Medan. https://febi.uinsu.ac.id/inflasi-peran-penguatan-islamic-finance/
Yusufy, S. Al. (n.d.). Pengaruh Riba Terhadap Inflasi. https://milenianews.com/mata-akademisi/pengaruh-riba-terhadap-inflasi/

 

banner 728x90

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *