Media NU Jakarta Barat
Indeks
banner 728x250
Opini  

MENGENAL TRADISI PESANTREN

Sudarmoyo H Soewarto
Pondok Pesantren Sidogiri didirikan oleh Sayyid Sulaiman di Pasuruan, Jawa Timur. Terdapat dua versi tentang tahun berdirinya Pondok Pesantren Sidogiri yaitu 1718 atau 1745. Namun, disimpulkan bahwa Pondok Pesantren Sidogiri berdiri pada tahun 1745. Hal ini didasarkan kepada surat yang ditandatangani oleh KA Sa’doellah Nawawie pada tahun 1971 (Sumber: Kumparan.com)
Bagikan ke teman :

Rabu, 15 Oktober 2025 PWNU DKI Jakarta menggelar demo di kantor pusat Trans Corp Jakarta. Demo yang dilakukan oleh PWNU di dipicu oleh sebuah tayangan program “Xpose Uncensored” Trans 7 yang ditayangkan pada 13 Oktober 2025. Digambarkan dalam sebuah tayangan televisi menampilkan santri yang berjalan ngesot untuk mencium tangan kiai dengan narasi yang menyiratkan ironi tentang kekayaan dan kemewahan. Tayangan itu memicu gelombang protes dari masyarakat pesantren dan publik luas. Peristiwa ini tidak semata-mata soal kesalahan media, tetapi gejala yang lebih dalam tentang adanya jarak pemahaman antara dua dunia yang berbeda cara mengenali kenyataan. Indonesia memiliki 1.340 suku bangsa. Suku jawa adalah suku terbesar di Indonesaia, mencakup 41% dari total populasi. Setiap suku memiliki tradisi yang berbeda-beda, pun demikian pula dengan pesantren juga memiliki perbedaan tradisi yang berbeda tergantung daerahnya. Tradisi di jawa khususnya jawa timur dan jawa tengah sangat dipengaruhi oleh tradisi Mataraman sehingga membentuk kesamaan dalam bahasa, adat, dan kesenian. Juga terjadi akulturasi antara tradisi lokal dan Islam. Dalam setiap kebudayaan selalu ada wilayah yang tidak mudah dipahami oleh cara pandang yang lahir dari luar dirinya. Pesantren adalah salah satu wilayah semacam itu. Ia berdiri sebagai rumah panjang bagi makna yang tumbuh dari keheningan, dari disiplin yang dijaga tanpa pamer, dari relasi spiritual yang tidak tunduk kepada ukuran materi. Ketika dunia modern yang bekerja dengan kecepatan informasi mencoba menatap dunia ini, sering kali yang muncul bukan pengertian melainkan salah baca. Mengutip penelitian yang dilakukan oleh Zamakhsyari Dhofier menyatakan bahwa kiai dan pesantren adalah dua variabel yang tak dapat dipisahkan. Benar bahwa Lembaga pesantren terikat dengan formulasi eksplisit Islam tradisional, tapi kiai memiliki peran penghubung antara Islam tradisional dan dunia nyata. Posisi kiai seperti ini tergolong unik, dan menjadi inti kualitasnya yang dominan. Walaupun posisis itu seringkali menjadi persoalan dan menyulitkannya, namun justru di sinilah letak keagungan kiai. Kiai adalah pemimpin yang kreatif yang selalu berupaya mengembangkan pesantren dalam dimensi-dimensi baru dan panorama berwajah plural kehidupan pesantren dewasa ini, hal itu merupakan satu indikasi adanya kreasi jenius kiai.

Dunia pesantren tumbuh dari keyakinan bahwa ilmu adalah cahaya yang diturunkan melalui keikhlasan. Di sana tubuh, kata, dan tindakan manusia menjadi jalan untuk mencari keberkahan. Seorang santri mencium tangan kiai bukan karena takut atau tunduk, melainkan karena ingin menghubungkan dirinya dengan sumber pengetahuan dan moral. Dalam tradisi itu gerak tubuh adalah bentuk doa, dan semua yang tampak di permukaan lahir dari keyakinan bahwa kehormatan kepada guru adalah jalan menuju keberkahan dan kebijaksanaan.  Dunia modern yang menilai sesuatu dari efisiensi dan kesetaraan formal mungkin sulit membaca kedalaman simbol semacam ini. Di situlah sering muncul kesalahpahaman. Tindakan yang sakral diterjemahkan menjadi tontonan, penghormatan dianggap sebagai kepatuhan, dan kesederhanaan dibaca sebagai ketertinggalan.

banner 400x130

Gagasan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) tentang pesantren sebagai subkultur memberi kunci penting untuk memahami kedalaman persoalan ini. Gus Dur memandang pesantren bukan hanya sebagai lembaga pendidikan agama, tetapi sebagai dunia yang memiliki sistem nilai dan tata moral sendiri. Ia adalah ruang yang membentuk manusia dengan cara yang berbeda dari sekolah atau universitas modern. Di dalamnya ilmu tidak sekadar pengetahuan, melainkan laku hidup yang menuntut penghayatan. Santri tidak hanya belajar menghafal teks, tetapi belajar menundukkan diri di hadapan guru dan sesama. Di situlah pesantren membangun kekuatannya, yakni kekuatan moral yang tidak bersumber dari kekuasaan, melainkan dari keikhlasan dan adab.

 

Elemen-Elemen Pesantren

Kata pesantren bagi masyarakat Indonesia sudah sangat familiar. Masyarakat mengartikan adalah tempat menuntut ilmu agama Islam oleh santri kepada kiai atau ulama. Menurut KBBI kata pesantren memiliki arti asrama tempat santri atau murid-murid belajar mengaji. Terdapat lima elemen pesantren yaitu pondok, masjid, santri, pengajaran kitab Islam klasik, dan kiai.  Ini berarti bahwa suatu lembaga pengajian yang telah berkembang hingga memiliki kelima elemen tersebut berubah statusnya menjadi pesantren. Di Indonesia, orang biasanya membedakan kelas-kelas pesantren menjadi dalam tiga kelompok, yaitu pesantren kecil, menengah, dan besar.

Pesantren yang tergolong kecil biasanya mempunyai jumlah santri di bawah seribu dan pengaruhnya juga terbatas pada tingkat lokal atau kabupaten. Pesantren menengah biasanya memiliki santri antara 1.000 sampai 2.000 orang, memiliki pengaruh dan menarik santri-santri dari beberapa Kabupaten. Adapun pesantren besar biasanya memiliki santri diatas 2.000 bahkan bisa mencapai belasan maupun puluhan ribu santri dari berbagai kabupaten dan provinsi bahkan memiliki  pengaruh secara nasional.

Dilansir dari berbagai sumber, terdapat beberapa contoh pesantren besar yang memiliki jumlah santri di atas 10.000 dan berpengaruh besar di dunia pendidikan Islam. Contohnya adalah Pondok Pesantren Lirboyo Kediri Jawa Timur yang didirikan oleh KH. Abdul Karim (mbah Manab) pada tahun 1910. Pesantren Lirboyo dikenal sebagai pesantren salaf terbesar di Indonesia dengan jumlah santri lebih dari 40.000 orang. Yang kedua Pondok Pesantren Gontor – Ponorogo – Jawa Timur, Ponpes Darussalam Gontor didirikan pada tahun 1926. Pesantren Gontor memiliki lebih dari 35.000 santri. Yang ketiga Pondok Pesantren Sidogiri Pasuruan – Jawa Timur, merupakan pesantren tertua di Indonesia yang didirikan pada tahun 1745. Pesantren ini memiliki lebih dari 20.000 santri yang datang dari berbagai daerah di Indonesia. Adapun elemen-elemen pesantren meliputi:

 

Pondok. Sebelum tahun 1960-an, pusat pendidikan pesantren di Indonesia lebih dikenal sebagai pondok. Yaitu asrama para santri atau tempat tinggal santri yang dibuat dari bambu. Mengutip buku yang berjudul ‘Tradisi Pesantren’ karya Dr. Zamakhsyari Dofier disebutkan bahwa kata pondok berasal dari bahasa Arab funduq yang artinya hotel atau asrama. Sedangkan perkataan pesantren berasal dari kata santri, yang mendapat awalan pe dan akhiran an yang berarti tempat tinggal santri.  Jadi dapat disimpulkan bahwa pondok adalah sebuah asrama pendidikan Islam tradisional di mana siswanya/santri tinggal bersama dan belajar di bawah bimbingan seorang atau lebih guru yang lebih dikenal dengan sebutan kiai. Asrama untuk santri berada di dalam lingkungan komplek pesantren dan kiai juga bertempat tinggal di komplek yang sama.

Pondok, adalah asrama bagi para santri, merupakan ciri khas tradisi pesantren yang membedakannya dengan sistem pendidikan tradisional di masjid-masjid. Pondok ini berfungsi sebagai tempat tinggal para santri dan lebih dari itu agar lebih dekat dengan kiai karena ada sikap timbal balik antara kiai dan santri, di mana para santri menganggap kiainya seolah-olah sebagai bapaknya sendiri, sedangkan kiai menganggap para santrinya sebagai titipan Tuhan yang harus senantiasa dilindungi. Sikap timbal balik ini menimbulkan keakraban dan perasaan tanggung jawab. Disamping itu dari pihak santri tumbuh perasaan pengabdian kepada kiainya.

Pondok tempat tinggal para santri merupakan elemen paling penting dari tradisi pesantren. Meskipun keadaan pondok sangat sederhana dan penuh sesak, namun para santri yang baru tiba dari kampung halamnnya tidak perlu mengalami kesulitan dalam memperoleh tempat tinggal. Kiai dan santri senior selalu membantu santri baru untuk dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan dan kehidupan barunya di pesantren.

 

Masjid. Masjid merupakan elemen yang tak terpisahkan dari ciri pesantren. Masjid sebagai pusat untuk mendidik santri, terutama dalam praktik sembahyang lima waktu, khutbah dan sholat Jum’ah, serta pengajaran kitab-kitab klasik. Masjid menjadi pusat pendidikan dalam tradisi pesantren merupakan manifestasi universalisme dari sistem pendidikan Islam tradisional. Dengan kata lain, merupakan kesinambungan sistem pendidikan yang diterapkan oleh Nabi Muhammad saw ketika mendirikan masjid Quba di Madinah sebagai pusat pendidikan umat Islam saat itu sehingga tersambung sampai hari ini. Hingga saat ini kaum muslimin di seluruh dunia selalu menggunakan masjid sebagai tempat pertemuan, pusat pendidikan, aktivitas administrasi dan kultural. Dan lembaga pesantren memelihara terus tradisi tersebut hingga saat ini.

 

Pengajian Kitab Klasik (Kitab Kuning). Pada masa lalu, pengajaran kitab klasik atau kitab kuning terutama yang berfaham Syafi’i merupakan satu-satunya pengajaran formal di lingkungan pesantren. Tujuannya adalah untuk mendidik calon-calon ulama yang akan terjun di masyarakat setelah selesai menuntut ilmu di pesantren.  Kitab-kitab klasik yang diajarkan di pesantren terdiri dari nahwu, dan shorof, fiqh, usul fiqh, hadist, tafsir, tauhid, tasawuf dan etika, serta tarikh dan balaghah. Sistem pengajaranya biasanya sistem sorogan yaitu seorang santri menyodorkan kitabnya secara individu untuk dibaca dan dipelajri di hadapan guru atau kyai. Dan sistem badongan yaitu dimana seorang kyai membaca kitab, menerjemahkan, dan menjelaskan isi kitab kuning kepada santri yang menyimak dan mencatat.

 

Santri. Menurut pengertian yang digunakan dalam lingkungan pesantren, seseorang alim hanya bisa disebut kiai bilamana memiliki pesantren dan santri yang tinggal dalam pesantren tersebut untuk mempelajari kitab-kitab Islam klasik. Oleh sebab itu, santri merupakan salah satu elemen penting dalam pesantren.

Kata santri menurut Profesor John berasal dari bahasa Tamil yang berarti guru mengaji. Sementara itu C.C Berg berpendapat bahwa istilah santri berasal dari kata shastri yang dalam bahasa India yang berarti orang yang tahu tentang buku-buku suci agama Hindu, atau seorang sarjana ahli kitab suci agama Hindu. Kata shastri berasal dari kata shastra yang berarti buku-buku suci, buku-buku agama atau buku-buku tentang ilmu pengetahuan. Sementara menurut Nurcholis Madjid dalam buku Bilik-Bilik Pesantren: Sebuah Potret Perjalanan (1999), santri diartikan sebagai kosakata dari bahasa jawa kata ‘cantrik’. Kata ‘cantrik artinya orang atau murid yang selalu mengikuti gurunya. Sedangkan menurut Kamus Besar Nahasa Indonesia (KBBI), santri adalah orang yang mendalami agama Islam atau orang yang beribadah dengan sungguh-sungguh. Santri dahulu dikenal dengan istilah kaum sarungan. Istilah kaum sarungan dimaknai sebagai kaum agamis tradisionalis yang kesehariannya tidak jauh dari musala, masjid, pesantren, dan kitab kuning.

Namun menurut tradisi pesantren santri dibedakan menjadi dua yaitu Santri Mukim, dan santri kalong Pengertian santri mukim adalah murid-murid yang berasal dari daerah lain yang jauh dan menetap dalam pondok pesantren. Adapun santri kalong adalah murid-murid yang berasal dari desa-desa di sekitar pesantren, biasanya mereka tidak menetap di dalam pondok pesantren.

 

Kiai. Kiai adalah elemen yang paling esensial dari suatu pesantren. Ia seringkali bahkan merupakan pendirinya. Jadi sudah sewajarnya bahwa pertumbuhan dan kemajuan pesantren semata-mata bergantung pada kemampuan pribadi kiainya. Mengutif Zamakhsyari Dofier dalam buku: Tradisi Pesantren (1980), dikatakan bahwa kata kiai dipergunakan untuk ketiga jenis gelar yang saling berbeda. Yaitu sebagai gelar kehormatan untuk barang-barang yang dianggap keramat, contoh kiai carubuk adalah sebutan sebuah keris milik Sunan Kalijaga. Gelar kehormatan untuk orang-orang tua pada umumnya. Dan gelar yang diberikan oleh masyarakat keapada seorang ahli agama Islam yang memiliki datau menjadi pemimpin pesantren dan mengajarkan kitab-kitab Islam klasik kepada santrinya.

Perlu ditekankan bahwa ada perbedaan sebutan bagi ahli-ahli pengetahuan Islam di kalangan umat Islam. Di Jawa Barat mereka disebut ajengan. Di Jawa Tengah dan Jawa Timur disebut kiai. Namun pada zaman sekarang banyak juga ulama yang yang berpengaruh di masyarakat juga mendapat gelar kiai meskipun mereka tidak memimpin pesantren.

Masyarakat biasanya mengharapkan seorang kiai dapat menyelesaikan persoalan-persoalan keagamaan praktis sesuai dengan kedalaman pengetahuan yang dimilikinya. Semakin tinggi kitab-kitab yang ia ajarkan maka akan semakin dikagumi. Kiai juga diharapkan dapat menunjukkan kepemimpinannya, kemampuanya, karena banyak orang datang untuk meminta nasehat dan bimbingan kepadanya. Ia juga diharapkan sebagai sosok yang rendah hati, menghormati semua orang tanpa melihat status sosialnya, banyak laku perihatin, dan tidak berhenti  memberikan teladan keagamaan seperti memimpin sholat lima waktu, memberikan khutbah jum’ah, menerima undangan perkawinan, dan memimpin mendoakan selamatan kematian dan lain-lain.

banner 728x90

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *